Oleh: Eko P / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta –Menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO) saat ini, setiap 40 detik sekali, satu orang melakukan bunuh diri. Setiap tahun diperkirakan sekitar 800.000 orang meninggal karena bunuh diri. Angka ini hanya kalah dari kecelakaan jalan raya, namun sayangnya lagi menurut WHO, topik ini jarang dibicarakan.

Dari sisi gender, melansir data WHO pada tahun 2016, tingkat bunuh diri pria sebanyak 13,5 per 100.000, sementara di kalangan perempuan 7,7 per 100.000 orang. Meski angka pria dan perempuan bisa berbeda pada tiap-tiap negara namun secara global laki-laki lebih banyak yang melakukan bunuh diri dibanding perempuan.

Bunuh diri di kalangan laki-laki tertinggi terjadi di Rusia dengan 48 per 100.000 orang, lebih tinggi enam kali lipat di banding perempuan di negara itu, mengutip laman BBC News, Ahad (15/9).

Padahal, dampak tindakan bunuh diri sangat besar, terutama terhadap mereka yang ditinggalkan seperti anak, orang tua, pasangan, teman dan rekan kerja.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika tahun lalu memperkirakan, satu tindakan bunuh diri bisa berdampak pada 135 orang di sekitar mereka.

“Dampak psikiatris pada orang yang terpapar bunuh diri akan lebih besar jika orang itu sangat dekat dengan korban, tak peduli apakah anggota keluarga atau bukan,” kata Dr. Julie Cerel dari University of Kentucky.

Namun terkadang kita berada di pihak yang menghadapi tantangan untuk membicarakan masalah pelik ini.

Bagaimana cara terbaik untuk bicara soal topik ini?
Bunuh diri sering terkait dengan perasaan kesepian, maka dukungan dan pengertian dari orang sekitar sangat dibutuhkan.

Memulai percakapan
Tak ada yang salah atau betul ketika bicara soal perasaan ingin bunuh diri (suicidal feeling). Yang terpenting adalah memulai percakapan, kata Emma Carrington, juru bicara lembaga nirlaba Rethink UK.

“Pertama, kita harus akui ini adalah percakapan yang sulit, dan bukan percakapan sehari-hari. Jika Anda merasa gugup, itu wajar.”

“SItuasinya tak akan lebih buruk, karena memang sudah buruk. Maka yang terpenting, mendengarkan tanpa menghakimi.”

Bagaimana berbicara dengan orang yang ingin bunuh diri:
1) Pilih tempat yang tenang yang bisa membuat nyaman.
2) Pastikan Anda berdua punya waktu cukup untuk berbicara.
3) Jika Anda merasa berkata salah, jangan panik. Jangan terlalu keras pada diri sendiri.
4) Fokus pada lawan bicara, lakukan kontak mata, simpan telepon genggam Anda. Berikan perhatian penuh.

5) Sabar. Mungkin butuh waktu dan beberapa kesempatan sebelum seseorang bisa bicara terbuka.
6) Gunakan pertanyaan terbuka, yang membutuhkan lebih dari jawaban ya/tidak. Pastikan Anda mengerti.
7)Jangan memotong percakapan atau menawarkan solusi; jangan menyerobot dengan menyatakan ide Anda sendiri tentang apa yang mungkin dirasakan oleh lawan bicara Anda.
8) Pastikan lawan bicara Anda tahu di mana bisa dapat pertolongan profesional.
Siapa saja yang terkena risiko?

Bunuh diri berdampak pada orang berbagai usia, tapi secara global tingkat bunuh diri di kalangan pria lebih tinggi.

Ada hubungan erat antara bunuh diri dan kesehatan mental (khususnya depresi dan konsumsi alkohol). Namun bunuh diri banyak terjadi secara impulsif pada saat krisis, ketika seseorang berada dalam tekanan hidup, masalah keuangan, putus hubungan, atau menderita penyakit parah.

Angka bunuh diri di kalangan pedesaan juga tinggi, begitupun di kalangan kelompok rentan yang mengalami diskriminasi semisal pengungsi dan migran, penduduk asli, LGBTQ dan orang dalam penjara.

Menurut WHO, risiko lebih besar dapat menimpa orang yang mengalami konflik, bencana, kekerasan, kehilangan dan perasaan kesepian.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here