Gubernru Kaltim, Isran noor menegaskan tidak ada pengistimewaan warga lokal ketika ibu kota pindah ke Kaltim kelak.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Pemindahan Ibu Kota Negara RI ke Kalimantan Timur dipastikan juga akan melibatkan masyarakat Kaltim secara luas baik dari sektor pekerjaan dan kemampuan berkompetisi dengan warga pendatang lainnya. Sehingga tidak ada keistimewaan bagi penduduk lokal terkait dengan pemindahan ibu kota negara.

Penegasan itu disampakan Gubernur Kaltim, Isran Noor usai pembukaan acara Launching persiapan Emission Reductions Payment Agreement (ERPA) atau Kesepakatan Pembayaran Pengurangan Emisi untuk kegiatan Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF), yang berlangsung di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Senin (9/9).

“Saya sudah sampaikan ke masyarakat Kaltim itu heterogen jadi berbagai macam suku ada. (Suku) Jawa ada 35 persen, Sulawesi 28 persen, sisanya ada suku-suku lainnya yang tidak lebih dari 10 persen. Jadi tidak ada program yang mengistimewakan masyarakat lokal dalam menyongsong terjadinya sebuah ibu kota negara nantinya,” ujar Isran.

Lanjut gubernur, penetapan Kaltim sebagai ibu kota negara harus disambut dengan suka cita. Penunjukkan ini juga menjadi sebuah tanggungjawab moral masyarakat Kaltim untuk bisa mendukung dan menyukseskan pembangunan kepindahan ibu kota negara ke Kaltim.

Dengan tegas Isran mengatakan hingga saat ini tidak ada program untuk menjadikan orang lokal istimewa. Sehingga Isran mengimbau warga Kaltim untuk terus meningkatkan pendidikan, meningkatkan kualitas hidup dan pekerjaan dan lain-lain, karena kompetisi kerja saat ibu kota pindah ke Kaltim tentu akan semakin ketat.

Begitupun dengan pengakuan kedaerahan, gubernur berharap jangan sampai ada yang ingin menguasai lahan besar dan membawa-bawa nama suku dan kedaerahan asal. Justru menjaga persatuan dan kesatuan, agar tidak ada keributan dan permasalahan yang timbul dari pemindahan ibu kota negara ke Kaltim.

“Kaltim inikan banyaknya orang pendatang, jadi sama-sama. Bagi saya siapapun yang berada di Kaltim itulah penduduk lokal . Jadi bagaimana meningkatkan kapasitas, meningkatkan kemampuan masing-masing. Jadi tidak ada keistimewaan bagi penduduk lokal. Jika berpikir demikian maka akan ada sekat-sekat. Jadi kalau mau cari kesempatan, harus bekerja keras sehingga bisa maju,” ujarnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here