Tingginya harga tiket menurunkan minat masyarakat untuk bepergian dan liburan.(foto:ist)

“Harga tiket penerbangan domestik belum turun juga sejak November 2018. Mahalnya harga tiket selain memberatkan masyarakt yang akan bepergian juga memukul sektor lain seperti usaha jasa penjualan tiket dan perjalanan”

Poskaltim.com, Samarinda — Masih tingginya harga tiket untuk penerbangan di Indonesia, sangat memukul berbagai sektor.

Efek domino kenaikan harga tiket ini tidak saja berimbas secara langsung kepada konsumen, melainkan juga menghantam para pengusaha tiket dan biro perjalanan (tours and travel) di dua kota besar di Kalimantan Timur (Kaltim), yaitu Balikpapan dan Samarinda.

Fahcriza A. Chair dari Travel Borneo Kersik Luway Samarinda mengatakan jika kenaikan tiket terjadi sejak November 2018 dan belum turun hingga akhir bulan Februari 2019.

“Situasi ini juga belum tahu turunnya kapan. Kalau dibilang ini musim low season (penumpang tidak banyak) tidak tepat juga karena pesawat dari Samarinda ke Jakarta atau sebaliknya selalu penuh. Bagitu juga yang tujuan Samarinda Surabaya,” ucapnya kepada Poskaltim.com, Senin (25/2/2019).

Ditambahkan Riza, selain turunnya penjualan tiket, kenaikan harga juga berdampak pada liburan terjadwal yang telah dijadwalkan beberapa orang dan kelompok pada kantornya.

Menurutya, dengan naikknya harga tiket, banyak warga yang menunda liburan bahkan membatalkan perjalanannya. Baik itu liburan ke luar negeri macam Malaysia dan Singapura maupun untuk paket domestik seperti ke Malang, Bandung dan Batam.

“Sudah ada lima paket yang harus ditunda dan terancam dibatalkan. Mengingat beberapa bulan lagi sudah masuk bulan puasa dan Idul Fitri dimana setiap orang berebut tiket pesawat untuk mudik. Harga tiket pasti tidak akan turun,” ujarnya.

Sementara itu, pemilik Kania Travel Balikpapan, Rita Susanti mengatakan jika harga tiket masih tinggi dalam beberapa bulan ke depan, dirinya memperkirakan akan banyak biro perjalanan akan kolaps dan berbagai macam kegiatan dan acara yang akan dibatalkan.

Sejak beberapa tahun lalu, ujarnya, penjualan tiket kalah bersaing dengan biro perjalanan online macam traveloka dan lain-lain. Apalagi, pemerintah dianggap tidak berpihak pada penumpang maupun pengusaha tiket.

“Kalau dijawab pemerintah agar tidak usah melakukan perjalanan liburan disaat harga tiket mahal, saya rasa itu sangat tidak tepat dan tidak berpihak pada konsumen,” tegasnya.

Sebagai perbandingan, harga tiket di Samarinda tercatat, tiket Garuda Indonesia sebelum naik Rp1,1 juta meroket menjadi Rp2,2 juta kemudian diturunkan lagi menjadi Rp1,8 juta setelah ada kebijakan anjuran menurunkan 20 persen. NAmun harga ini masih dianggap tinggi jika dibandingkan harga normal sebelum terjadi kenaikan.

Sedangkan harga tiket Citilink dari harga normal Rp800 ribu kini menjadi Rp1,8 juta. Untuk Batik Air dari harga normal Rp900 ribu-an kini menjadi Rp1,5 juta.

Perintah Presiden Joko Widodo untuk menurunkan harga tiket memang diikuti oleh jajaran Kementerian Perhubungan dan pihak airlines berplat merah. Tetapi penurunan ini hanya untuk jalur-jalur “seksi” saja semacam Jakarta-Denpasar, Jakarta-Medan, Jakarta-Yogyakarta dan beberapa rute lainnya. Namun, untuk jalur penerbangan lainnya harga tetap tinggi dan entah kapan normalnya.

“Jika mau adil, harga tiket haruslah harga Pancasila, khususnya sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Turunkan harga tiket di semua rute penerbangan di seluruh Indonesia, bukan pilih-pilih,” pinta Fahcriza.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here