Foto Ilistrasi: Istimewa

Oleh: Herry M. Joeosoef

Indonesiainside.id, Jakarta – Pemberian seseorang kepada sahabat atau kepada sebuah komunitas, lazimnya dihaturkan ucapan “terima kasih” oleh si penerima.

Pemberian adalah kebaikkan seseorang. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya si pemberi menerima ucapan terima kasih dari si penerima. Dan itu adalah perbuatan yang sangat dipujikan.

Ucapan “terima kasih” hakekatnya adalah bentuk rasa syukur. Karena itu, dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam ath-Tirmidzi yang dinarasikan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Mengucap “terima kasih” sebagai bentuk rasa syukur amat dimulyakan-Nya. Itulah kenikmatan yang akan didapatkan, baik oleh si penerima maupun oleh si pemberi.

Begitu pula dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberi perhatian khusus tentang rasa syukur ini. Usamah bin Zaid menarasikan sebuah hadits, “Barangsiapa yang diberikan kebaikan oleh seseorang, lalu ia mengatakan kepada orang yang telah melakukan kebaikan tersebut dengan ucapan “Jazakallahu khoiron (semoga Allah Membalasmu dengan kebaikan), maka dia telah memujinya dengan pujian yang tinggi.”(HR. Imam ath-Tirmidzi)
Lalu, bagaimana jika ucapan terima kasih itu tidak diucapkan oleh si penerima? Kisah di bawah ini akan menjadi pelajaran kita bersama.

Ada seorang ustadz yang cukup kondang, punya masjid, rumah tahfis, dan jamaah yang puluhan ribu orang. Ada pertemuan majelisnya setiap bulan sekali, sudah berlangsung lebih dari 20 tahun yang lalu. Karena kebutuhan ruang pertemuan untuk jamaahnya, ia akhirnya hijrah ke kabupaten lain untuk membangun masjid dan tempat parkir yang luas. Tanah dan masjid sudah ada yang menanggung.

Masjid, rumah tahfiz dan rumah ustadz sudah tersedia. Setiap bulan ada pertemuan, dan setiap bulan pula jamaah mengumpulkan infak untuk operasional masjid dan rumah tahfiz. Karena ikonnya adalah si ustadz, untuk operasional masjid dan rumah tahfiz yang jumlahnya ratusan juta per bulan, masih tertutupi.

Tetapi, seiring pernjalanan waktu. Si ustadz sakit, dirawat di luar negeri, selama beberapa bulan, dan akhirnya wafat. Sepeninggal ustadz yang kondang ini, aktifitas rutin bulanan tetap berlangsung, dengan ustadz yang selama ini memang sudah dipersiapkan oleh si ustadz kondang itu.

Sayangnya, meskipun si ustadz pengganti adalah kader langsung, jamaah tetap saja menyusut. Akibatnya, jumlah yang saweran untuk operasional masjid dan rumah tahfiz juga berkurang jauh. Pengurus pun jadi bingung, darimana beban operasional ditutup?

Rupanya, ketika si ustadz masih hidup, operasional masjid dan rumah tahfiz juga sudah kekurangan. Untungnya, ada seorang dermawan yang secara rela mau menutupi kekurangannya. Bahkan, ketika si ustadz dirawat di luar negeri, semua pembiayaan ditanggung oleh si dermawan tersebut. Tetapi mengapa si dermawan tidak mau lagi menutupi ketekoran untuk biaya operasional masjid dan rumah tahfiz?

Gara-garanya terlihat sederhana. Si ustadz mewasiatkan, agar sepeninggal dia, anak sulungnya yang akan pegang peran. Di sinilah masalahnya. Si sulung ini, dalam pandangan si dermawan, tidak tahu terima kasih, dan selama ini tidak pernah menghargai dirinya.

Inilah pelajaran tersebut. Ketika seseorang yang sudah dibantu menjadi pelit mengucapkan “terima kasih”, di situlah masalah berawal. Tidak ada yang tahu, bahwa ketika si ustadz masih hidup, semua biaya operasional ada yang menanggung. Ketika kepemimpinan beralih ke generasi kedua, dan ketika adab mengucapkan “terima kasih” tidak pernah disampaikan, maka musibah pun mulai menghampiri. (HMJ/INI Network/ https://indonesiainside.id/khazanah/2019/07/11/terima-kasih-nikmat-bisa-jadi-musibah/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here