PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), berhasil menerapkan komplesi sumur tanpa rig, yang lebih efisien.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Umum di dalam industri pengeboran minyak di Indonesia, penggunaan anjungan (Rig) kerap digunakan untuk anjungan minyak lepas pantai. Namun, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), berhasil menerapkan komplesi sumur tanpa rig, yang lebih efisien.

PHM selaku operator di Wilayah Kerja Mahakam dengan dukungan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia selaku induk perusahaan, berhasil mengembangkan penggunaan tehnik Hydraulic Workover Unit (HWU) sebagai alternatif pengganti rig untuk pemasangan teknologi komplesi (completion) sumur dengan filter kepasiran yaitu Multi Zone Single Trip – Gravel Pack (MZST–GP).

Pada uji coba di sumur produksi TN-AA371 yang berpotensi mengalami masalah kepasiran di Lapangan Tunu, PHM mampu menghemat biaya MZST–GP hingga 37 persen, atau setara dengan USD 340.000 lebih murah dibandingkan dengan biaya penggunaan rig konvensional untuk operasi yang sama.

General Manager PHM, John Anis, mengatakan inovasi yang dibuat oleh para engineer di PHM tersebut sangat membanggakan, karena operasi pemasangan sistem MZST-GP tanpa menggunakan rig ini baru pertama kali dilakukan di PHM.

“Kami sangat serius mengupayakan cost effectiveness dalam operasi kami melalui pengembangan berbagai inovasi, di samping terus berupaya melawan tren penurunan produksi secara alamiah di WK Mahakam. Dan yang paling utama, kami tidak boleh sedikit pun mengorbankan aspek keselamatan,” kata John Anis, Selasa (23/9).

Sejauh ini metode rigless masih terus dikembangkan dan diuji oleh tim PHM, namun John Anis optimistis, metode rigless ini bisa berkontribusi untuk tercapainya penurunan biaya sumur hingga 40 persen untuk area rawa-rawa (swamp) Delta Mahakam dan 50 persen untuk area lepas pantai (offshore) di tahun 2020.

Teknologi MZST-GP sendiri telah diaplikasikan pada 170 sumur di Lapangan Tunu (sekitar 10 persen dari jumlah sumur di lapangan gas tersebut) yang berpotensi mengalami masalah kepasiran namun pemasangan MZST-GP selama ini masih menggunakan rig sehingga biaya komplesi relatif lebih mahal dibandingkan HWU.

Diskusi untuk menguji-coba metode pengerjaan sumur dengan HWU ini telah dimulai sejak November 2018, dilanjutkan dengan berbagai persiapan intensif pada awal 2019, dan kegiatan pengerjaan sumur dilaksanakan pada Juni 2019 lalu.

“Keberhasilan ini merupakan sebuah tonggak sejarah, mengingat sistem MZST-GP ini tergolong teknologi komplesi yang sangat kompleks dan instalasinya melibatkan banyak pihak. Dan yang terpenting, kami menemukan metode untuk mengurangi pemakaian rig sehingga signifikan memangkas biaya sumur,” tambah John Anis.

Para mitra PHM yang terlibat dalam uji coba ini antara lain: PT Pelayaran Roylea Marine Line sebagai pemilik barge Sea Haven, PT Elnusa Tbk sebagai pemilik anjungan HWU, PT Dowell Anadril Schlumberger sebagai pemilik barge Naga Biru yang mendukung kegiatan pemompaan dll, yang semuanya terlibat dalam suatu operasi simultan. Jam kerja yang dihabiskan mencapai 15.600 man hours, selama 20 hari kerja, dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mencapai 100 persen.

Berkat keberhasilan uji coba ini, PHM meneruskan studi untuk memperluas variasi kegiatan operasi pengerjaan sumur tanpa rig (rigless), diantaranya: Rigless Workover (sedang dilaksanakan di lapangan Tunu, Tambora dan Handil, mau pun offshore) dan Offline Well Sidetrack Preparation (akan dilaksanakan dalam waktu dekat), Rigless Completion, dan Rigless Drilling.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here