Tagar #BebaskanDandhyLaksono dan tagar dan #BebaskanDandhy Ditangkap Karena Benar, secara cepat terus meluas dan mengundang berbagai pihak melakukan aksi dukungan.

Oleh: Nurcholis / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Tagar #BebaskanDandhyLaksono dan tagar dan #BebaskanDandhy Ditangkap Karena Benar, secara cepat terus meluas dan mengundang berbagai pihak melakukan aksi dukungan.
Munculnya tagar ini karena penangkapan sutradara, aktivis dan jurnalis Dandhy Dwi Laksono oleh aparat Polda Metro Jaya hari Kamis (26/9) di rumahnya Pondok Gede Bekasi, menggerakkan warganet melakulan Aksi pembelaaan.

“Bisa bantu saya dengan menandatangani petisi ini? Selamatkan Kebebasan Berpendapat: Bebaskan Dandhy Dwi Laksono! Suara anda berharga untuk menyelamatkan warisan terpenting reformasi yakni kebebasan berpendapat!” #bebaskandandhylaksono, ujar tokoh aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla melalui akun @ulil memberikan komentar.

Sementara itu, sastrawan Agus Noor berkicau mengomentari penangkapan ini. Menurutnya, Dhandy ditangkap justru.

beberapa jam setelah pernyataan komitmen Jokowi tentang demokrasi.

“Beberapa jam kemudian aparatnya menangkap aktivis @Dandhy_Laksono Nanti ditanya wartawan, jawabnya “Saya tidak tahu.”

“Cukup dagelannya, Pak,” ujarnya.

Sementara itu, penulis puisi asal Jogja, Puthut EA mengatakan, sekiranya polisi menangkap ini untuk membungkam auara kritis, itu keliru.

“Kalau pemerintah dan polisi berpikir penangkapan Dandhy akan membuat rakyat takut, mereka keliru. Rakyat akan makin berani! Goblok!,” @pithutea.

Sementara Raff Molaku melalui akun @raffsastra menulis, “Lihatlah watak rezim, kebebasan berpendapat dikekang. Berbeda dituduh sara, dituduh mengganggu enkaeri, dan segala macam tuduhan.”

Sutradara film dokumenter Sexy Killers Dandhy Dwi Laksono dikabarkan ditangkap penyidik Polda Metro Jaya, Kamis (26/9) malam, diberitakan telah dilepaskan Jumat malam.

Menurut pengacara Dandhy, Alghiffari Aqsa, pendiri Watch Doq itu telah dibebaskan hariJumat (27/9) sekitar pukul 04.00 WIB meski dengan status tersangka.

Sebelum ditangkap, Dhandy sempat menulis kritik pedas pada polisi, yang dimuat di GeoTimes berjudul “Antara Polisi, Marinir, Dan Mahasiswa”.

Dalam tulisannya, ia mengatakan, kekuasaan saat ini disebutnya ‘Rezim Polisi’, Dan wajah rezim saat ini bisa dilihat wajah polisinya.

“Polisi bertindak represif karena panik. Jika gerakan ini bergulir menjadi reformasi baru, yang terancam bukan hanya kekuasaan Jokowi atau partai-parrai di DPR, melainkan juga eksistensinya. Ia khawatir kekuasaannya direformasi seperti terjadi pada TNI tahun 1998,” demikian kritiknya. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here