Oleh Andryanto S / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta — Sebuah survei swasta menunjukkan bahwa aktivitas di sektor jasa China meningkat dengan laju tercepat dalam tiga bulan pada Agustus karena pesanan baru naik, menandakan perbaikan ekonomi negeri tersebut setelah mengalami perlambatan.

Harga minyak melonjak lebih dari 4% pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), didorong oleh berita positif dari China, setelah tiga hari turun tertekan kekhawatiran tentang pelemahan ekonomi global.

Patokan harga internasional minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November, naik 2,44 dolar AS atau 4,2 persen menjadi ditutup pada 60,70 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, bertambah 2,32 dolar AS atau 4,3 persen menjadi menetap pada 56,26 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Ini adalah peningkatan persentase harian terbesar untuk WTI sejak 10 Juli.

Indeks saham di seluruh dunia berbalik naik atau rebound, karena meredanya kekhawatiran geopolitik dan data ekonomi positif dari China membawa pembeli kembali ke pasar ekuitas.

Sebuah survei swasta menunjukkan bahwa aktivitas di sektor jasa China meningkat dengan laju tercepat dalam tiga bulan pada Agustus karena pesanan baru naik, mendorong peningkatan terbesar dalam perekrutan dalam lebih dari setahun.

Selain itu, selera risiko investor lebih jauh hidup kembali setelah Hong Kong menarik RUU ekstradisi yang kontroversial di jantung protes baru-baru ini. China adalah konsumen minyak terbesar kedua dan importir terbesar di dunia.

Data AS yang dirilis pada Selasa (3/9/2019) menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami kontraksi pada Agustus untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sementara aktivitas zona euro menyusut untuk bulan ketujuh.

“Minyak mentah tetap bermasalah oleh laporan bahwa produksi dari OPEC, Rusia dan AS semua naik bulan lalu. Ini (datang) pada saat kekuatan pertumbuhan permintaan, karena pesimisme perang perdagangan, semakin dipertanyakan,” kata ahli strategi komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.

Kepala keuangan (CFO) BP Plc, Brian Gilvary mengatakan kepada Reuters bahwa permintaan minyak global diperkirakan akan tumbuh kurang dari satu juta barel per hari (bph) pada 2019 karena konsumsi melambat.

Tetapi pasokan tampaknya akan tetap terkendala karena para pejabat dan sumber-sumber Rusia dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak mengindikasikan negara-negara itu akan tetap berkomitmen pada perjanjian mereka untuk mengendalikan produksi meskipun terjadi goncangan di industri minyak Arab Saudi.

Dalam tanda kemungkinan ketegangan mereda di Teluk yang kaya energi, televisi pemerintah Iran melaporkan pada Rabu (4/9/2019) bahwa Teheran akan membebaskan tujuh anggota awak kapal tanker berbendera Inggris yang ditahan, Stena Impero. Kapal itu ditangkap dua minggu setelah Inggris menahan sebuah kapal tanker Iran dari wilayah Gibraltar yang dilepas kembali pada Agustus.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here