Salah satu sudut jalan di komplek Citra Niaga yang telah direvitalisasi, baik saluran drainase maupun mempercantik atap-atap kios yang telah usang, dengan bahan yang modern dan kekinian.

Oleh: Yuliawan

Poskaltim.com, Samarinda – Komplek pertokoan dan pusat perbelanjaan Citra Niaga Samarinda, mendadak terkenal di tahun 1989 lalu, manakala arsitektur bangunannya mendapatkan penghargaan internasional Aga Khan Award.

Aga Khan Award merupakan penghargaan bidang arsitektur tingkat dunia yang diberikan oleh lembaga nirlaba Aga Khan for Architecture dari Mesir. Citra Niaga memperoleh penghargaan dengan kategori arsitektur terbaik dan ramah lingkungan social, bersaing dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Citra Niaga, Drs Suardi menjelaskan lahan tempat dibangunnya Citra Niaga awalnya merupakan lahan kumuh dengan kesemrawutan pedagang kaki lima yang bercampur dengan tempat hiburan kelas rakyat, dengan nama Taman Hiburan Gelora (THG).

“Konsep konstruksi bangunan Citra Niaga ini berbentuk jaring laba-laba. Tidak ada pintu masuk utama. Semua jalan bisa diakses oleh pembeli. Gubernur saat itu Bapak Suwandi dan Wali Kota Samarinda Waris Husein menerima langsung penghargaan Aga Khan Award di Mesir pada tahun 1998,” jelas Suardi, yang ditemui Poskaltim pada Senin siang (14/10).

Kepala UPTD Citra Niaga, Drs Suardi, MM yang menjelaskan oanjang lebar sejarah dan prestasi Citra Niaga di dunia internasional.
Setelah 30 tahun berlalu, kilau dan pesona Citra Niaga terus memudar seiring dengan bermunculannya pusat-pusat perbelanjaan modern. Apalagi hantaman krisis ekonomi Indonesia di tahun 1998, benar-benar memukul para pedagang yang rata-rata adalah pedagang kecil dan menengah.

Diceritakan Suardi, dahulu awal dibukanya Citra Niaga, setiap pedagang tidak menjual barang yang sama. Dicontohkannya jika ada pedagang yang menjual pakaian pria, maka khusus pakaian pria saja. Begitupun jika menjual sepatu, dapat dipastikan toko tersebut hanya menjual produk sepatu saja. Namun seiring berjalannya waktu dan kesulitan permodalan, penjual kini bisa disebut menjual semua barang. Bahkan kini, satu toko menjual barang yang sama dengan pedagang lainnya.

Dijelaskannya, jika saat ini di Citra Niaga terdapat 216 petak penjual aktif dari 224 petak yang tersedia. Selain itu terdapat puluhan rumah toko dan kios-kios. Dari 216 petak ini sekitar 50 petak diisi penjual cenderamata khas Kaltim, puluhan penjual sembako, penjual telepon seluler, konveksi, sepatu dan petak untuk kuliner.

Gebrakan yang telah dilakukan oleh pengelola Citra Niaga adalah penetapan harga yang pantas untuk barang-barang yang dijual. Suardi mencontohkan untuk kios cenderamata, dirinya mengimbau pedagang untuk mematok harga dasar dan harga tertinggi yang seragam. Sehingga, kesan mahal ketika berbelanja di Citra Niaga dapat dihilangkan. Begitupun dengan kios kuliner, setiap kios boleh berbeda harga walaupun menu masakannya sama. Namun, setiap kios makanan harus menampilkan kepastian harga, sehingga pembeli sudah tahu harga makanan yang dipesannya.

“Ini yang selalu kita tekankan kepada pedagangn di lingkungan Citra Niaga. jangan sampai ada kesan, apalagi tamu dari luar daerah yang merasa kemahalan ketika berbelanja ataupun makan di sini,: ucapnya.

Sejak tahun 2018, Citra Niaga sebagai pasar rakyat kebanggaan warga Samarinda terus dilakukan revitalisasi. Dana yang dikucurkan untuk tahap satu sebesar Rp1,7 miliar dan tahap dua tahun ini sebesar Rp1,4 miliar. Sedangkan tahun 2020, masih dalam penganggaran.

Citra Niaga turut menjadi pusat oleh-oleh dan cendermata khas Kaltim, ketika wisatawan berkunjung ke Kota Samarinda.
“Kita ingin mengembalikan marwah dan kejayaan Citra Niaga ini. Kita ingin menata seperti Malioboro, Yogyakarta. Ke depannya kita ingin ada kantong parkir, sehingga kawasan seluas 2,5 hektar di Citra Niaga hanya akan dilalui oleh pejalan kaki,” ujarnya.

Suardi menjelaskan untuk pengelolaan Citra Niaga ke depan akan dilakukan ‘gotong royong” antara beberapa dinas, diantaranya Dinas Komunikasi dan Informatika Samarinda, Dinas Pariwisata, Dinas Perdagangan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Konsep ke depan untuk menghidupkan kembali Citra Niaga adalah dengan konsep smart city, dimana nantinya akan tersedia jaringan wi-fi, lampu hias tematik, promosi video tron, booth selfie, dan terhubung dengan hotel serta pusat perbelanjaan modern terdekat, hingga tersedia terminal yang terhubung dengan Bandar APT Pranoto Samarinda.

“Jadi lima dinas ini nantinya yang akan bersinergi untuk mengembalikan kejayaan Citra Niaga. Setidaknya Citra Niaga kembali mendapat tempat di hati warga Samarinda. Nah untuk menariknya, memang perlu proses. Saya yakin, Citra Niaga kembali ramai dikunjungi warga baik yang ingin berbelanja maupun hanya sekadar bersantai bersama keluarga,” ucapnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here