Bupati Penajam Paser Utara, Abdul Gafur Mas’ud menjalani ritual yang dilaksanakan oleh Lembaga Adat Paser (LAP). Suku Paser merupakan suku asli yang mendiami daratan Kota Balikpapan hingga ke wilayah selatan termasuk Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser..

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Penajam — Lembaga Adat Paser (LAP) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menggelar ritual adat Tambak Pulut dan Tepung Tawar, sebagai ucapan syukur atas penetapan Kabupaten PPU sebagai salah satu lokasi Ibukota Negara Republik Indonesia.

Bupati PPU, Abdul Gafur Mas’ud menjalani ritual yang dilaksanakan oleh suku tertua di PPU, Suku Paser ini digelar di pelataran Kantor Bupati PPU, Kilometer 09 Kelurahan Nipah-Nipah, Rabu (28/8) siang.

“Dulu orang-orang tua kita di Penajam Paser Utara memang pernah mengatakan keinginannya agar pusat pemerintahan RI ada di PPU, dan Alhamdulillah, akhirnya keinginan itu menjadi kenyataan. Kami sangat bersyukur sekali, tentunya ini berkat doa- doa baik orang tua kami disini yang masih hidup maupun yang telah meninggalkan kami,” kata Abdul Gafur Mas’ud yang akrab disapa AGM ini.

Abdul Gafur juga menjelaskan bahwa suku asli yang ada di PPU menyambut baik terhadap pendatang dari provinsi lain di Indonesia. Dirinya menjamin semua suku dapat menjaga keseimbangan dalam bermasyarakat. Ini terbukti dari banyaknya suku dari luar yang sudah berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun silam menetap bersama masyarakat asli yang ada di PPU.

“Di PPU Insya Allah semua suku akan hidup rukun damai. Benuo Taka (sebutan untuk kabupaten PPU yang berarti “Tanah Kita”) digambarkan sebagai Indonesia kecil, semua suku ada di sini dan masyarakat asli PPU menerima terhadap pendatang,” tegasnya.

Bupati Penajam Paser Utara, Abdul Gafur Mas’ud menyuapi Ketua Lembaga Adat Paser, Musa
sebagai bentuk penghormatan pendatang pada tanah yang ditempatinya.(foto:humasppu/ist)
Ketika ditanya terkait lahan yang harus disiapkan Pemkab PPu, Abdul Gafur menjelaskan bahwa hal itu tinggal tunggu perintah dari Presiden Joko Widodo dan tentunya sudah ada kajian dari Bappenas dan tim ahli mereka. Namun titiknya masih dirahasiakan karena pasti akan menimbulkan plus-minusnya dan tak menutup kemungkinan akan banyak muncul spekulan tanah sehingga tim dari pemerintah pusat belum mengumumkan letak persisnya ibukota negara kelak.

AGM mengatakan bahwa seluruh wilayah Kabupaten PPU yang memiliki lahan seluas 3.333 Kilometer persegi terdiri dari empat kecamatan adalah lahan yang siap untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas ibukota negara. Masyarakat Kalimantan Timur khususnya Kabupaten PPU tambah nya, sangat antusias menyambut keberkahan ini dan akan menjadi catatan tinta emas bagi bangsa dari Presiden RI Joko Widodo.

”Pemindahan ibukota ini saya yakini akan membawa peradaban baru kepada bangsa Indonesia dan akan menjadi peradaban yang baru di dunia,” tuturnya.

Ia juga mengatakan bahwa ketika proyek infrastruktur ibu kota negara dibangun, bupati meyakinkan kepada masyarakat tidak ada yang terkena penggusuran, karena wilayah PPU umumnya masih terdiri dari lahan kosong.

“Kita tahu PPU itu masih sepi, artinya lahan yang tersedia masih sangat banyak. Dari luas 3.333 Km persegi penduduk PPU hanya 170 ribu jiwa, Kecamatan Penajam saja hanya 50 ribu jiwa, Kecamatan Waru 11 ribu jiwa, Kecamatan Babulu 27 ribu jiwa dan Sepaku 24 ribu jiwa, jadi pemukiman warga yang mana yang bakal digusur,” ujar AGM sambil bertanya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here