Di Bulan Ramadhan, Rasulullah SAW ditinggal istri beliau yang juga dikenal dengan Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha.

Oleh: Azhar A Pawennay

Poskaltim.com, Jakarta – Ramadhan sebagaimana diketahui dari Al-Qur’an dan Hadits adalah bulan yang paling agung dan mulia. Tiadalah waktu yang melebihi keutamaan Ramadhan hingga Rasulullah SAW sendiri mengencangkan sarungnya hanya untuk beribadah terutama di 10 hari terakhir bulan diturunkannya Al-Qur’an.

Di balik segala kemuliaan Ramadhan, ada sebuah saat Baginda Nabi SAW juga bersedih. Beliau berduka sehingga pada tahun itu disebut dengan ‘amul hazn yaitu tahun duka cita. Tepatnya pada tahun kesepuluh masa kenabian di Bulan Ramadhan, Rasulullah SAW ditinggal isteri beliau yang juga dikenal dengan Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha.

Khadijah wafat menyusul paman Nabi Abu Thalib. Setelah Abu Thalib meninggal, berselang dua bulan, atau (menurut pendapat ulama lain) tiga hari kemudian, wafatlah sang Ummul Mukminin. Dua penopang dakwah Nabi menghadap Sang Khaliq.
Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan. Menurut pendapat yang paling kuat, umur Baginda Khadijah tepat berusia 65 tahun. Kala itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah berumur 50 tahun.

Sepeninggalan Rasulullah, Ali bin Abu Thalib menghembuskan napas terakhir pada 21 Ramadhan 40 Hijriah. Di bulan Ramadhan, tiga orang yang dicintai Rasulullah SAW berpulang ke Rahmatullah.

Sekitar 25 tahun lamanya, wanita mulia di sisi Rasulullah dan kaum muslimin, mendampingi dakwah Rasulullah hingga ajaran mulia yang beliau wariskan sampai pada hari ini.

Dikutip dari muslimah.or.id, Khadijah merupakan salah satu karunia Allah yang paling berharga bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mendampingi beliau selama empat kurun ketika masa penuh kegelisahan melanda. Dia mengokohkan beliau pada saat yang sangat berat. Dia meyakinkan beliau sewaktu risalah datang. Dia membantunya menanggung beban jihad yang telah berlalu. Dia menolong dengan segenap jiwa dan hartanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آمنت بى حين كفر بى الناس، وصدقتنى حين كذبني الناس، وأشركتنى في مالها حين حرمنى الناس، ورزقنى الله ولدها وحرم ولد غيرها

“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dia menyokongku dengan hartanya ketika orang-orang memboikotku. Dan Allah mengaruniakan anak bagiku dari (rahim)-nya. Padahal dengan (istri-istriku) yang lain, aku tak mendapatkannya.”(HR. Ahmad; hadits shahih)

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah. Dia berkata, “Jibril pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Ini, Khadijah telah datang. Dia membawa bejana berisi bumbu-bumbu, makanan, dan minuman. Jika dia mendatangimu, sampaikan kepadanya salam dari Rabb-nya. Kabarkan pula berita gembira tentang rumah di surga untuknya, yang berbenang emas dan perak, tanpa hiruk-pikuk maupun rasa letih di sana.’”

Sebagian ulama menyebutkan paman beliau, Abu Thalib, wafat bulan Rajab tahun kesepuluh masa kenabian. Ada pula ulama yang berpendapat bahwa Abu Thalib meninggal pada bulan Ramadhan, tiga hari sebelum wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Riwayat dari Shahih Bukhari, dari Ibnul Musayyib, menyatakan, sewaktu kematian semakin mendekati Abu Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpainya. Rasulullah berkata, ‘Wahai Paman, ucapkanlah la ilaha illallah; sepotong kalimat yang menjadi hujjah bagimu di hadapan Allah kelak.’

Dua peristiwa menyedihkan di antara hari-hari yang berganti. Hingga tercampur-aduklah semua duka lara di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Belum lagi musibah yang beliau dapatkan dari kaumnya. Mereka menjadi lancang dan berani terang-terangan menyiksa beliau sepeninggal Abu Thalib.

Duhai, kegelisahan semakin bertambah-tambah. Sampai beliau pun patah arang untuk mendakwahi kaum kafir Quraisy. Akhirnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan keluar dari Makkah menuju Thaif. Harap beliau, penduduk Thaif akan menerima dakwah Islam. Atau setidaknya mereka menolong beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadapi penolakan kaumnya. Alih-alih mengulurkan bantuan, penduduk Thaif malah mendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan begitu dahasyatnya! Bahkan dengan siksaan yang tak pernah ditimpakan oleh kaum Quraisy sekali pun.

Penduduk Makkah yang kafir semakin gencar menghimpit Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula terhadap para shahabat beliau. Sampai-sampai, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mendesak Rasulullah untuk berhijrah keluar Makkah. Karena itulah, mereka akhirnya keluar dari Makkah sehingga mereka berjumpa dengan sekumpulan unta yang hendak menuju ke Habasyah. Kemudian Ibnu Ad-Dughunnah mengembalikannya di sisinya.

Tumpukan kedukaan yang bertubi-tubi menimpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini membuat tahun tersebut disebut sebagai “tahun duka cita” (‘amul hazn). Istilah ini sudah dikenal dalam pelajaran sirah dan tarikh. (Aza/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here