PT PHM Berhasil Eksplorasi Sumur Baru dengan Produksi Gas 17 MMscfd

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Balikpapan – Operator Wilayah Kerja Mahakam PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), dengan dukungan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia selaku induk perusahaan, mengumumkan sumur baru MD-111 di Lapangan Mandu, area South Mahakam, sejak 21 Oktober 2019 telah menghasilkan produksi berupa gas sebanyak 17 MMscfd dan kondensat sebanyak 950 bcpd (barrel condensate per day).

Bahkan, PHM memperkirakan pada minggu pertama bulan November 2019, produksi gas dari sumur MD-111 ini akan mencapai puncaknya yakni sebanyak 35 MMscfd.

General Manager PHM, John Anis mengungkapkan kegembiraannya atas produksi dari sumur MD-111 ini karena memberikan berkontribusi yang cukup besar terhadap keseluruhan produksi di WK Mahakam.

“Keberhasilan ini merupakan bukti usaha tanpa henti oleh PHM untuk terus mengembangkan potensi-potensi di Wilayah Kerja Mahakam. Dan untuk itu kami mengerahkan segala daya upaya semaksimal mungkin, dengan terus mencari berbagai terobosan dan inovasi yang kreatif serta selalu mengutamakan keselamatan, efisiensi, dan pengambilan risiko yang terukur,” katanya.

Dijelaskan John Anis, sumur di Lapangan Mandu, area South Mahakam ini menggunakan jack-up Rig Tasha, dengan mendapatkan hasil yang sangat baik yaitu reservoir dengan total ketebalan 92 meter gas dan 19 meter minyak, dengan cadangan gas-nya diperkirakan mencapai 20,7 Bcf dan cadangan minyak mencapai 100.000 barel.

Besarnya cadangan gas dari sumur ini merupakan sebuah hal yang sangat menggembirakan, khususnya di WK Mahakam yang sudah masuk fase penurunan produksi alamiah (natural decline), karena semula ketebalan reservoir yang diprediksi dari MD-111 adalah 25 meter gas dengan cadangan gas 5 Bcf.

Kondisi geologi di Lapangan Mandu ini sangat kompleks dikarenakan adanya patahan-patahan yang memisahkan Lapangan Mandu menjadi beberapa panel yang memberikan akumulasi hidrokarbon yang berbeda, sehingga sulit untuk memastikan apakah sumur yang akan dibor ini berada di ladang gas atau ladang minyak.

Kajian bawah permukaan bumi (sub-surface) yang komprehensif oleh tim PHM akhirnya mampu mengidentifikasi potensi kandungan hidrokarbon di masing-masing panel tersebut. Kajian ini sangat krusial mengingat fasilitas di platform MD1 yang berada East Mandu Panel lebih dikhususkan untuk gas dan bukan minyak. Tim PHM mengebor sumur MD-111 dengan menggunakan kepala sumur dari platform MD1, yang berjarak 2,5 km dari sumur.

“Aktivitas pengeboran ini diselesaikan dengan durasi yang lebih singkat dibanding operasi sejenis, karena para engineer di PHM membuat inovasi dengan mengurangi jumlah casing string (pipa pembungkus yang diturunkan ke lubang pengeboran kemudian disemen untuk mengamankan sumur) yang biasa berjumlah empat menjadi tiga,” ujarnya.

Sebelumnya untuk pengeboran sumur di Mandu selalu dipasang 4 casing (heavy architecture) guna mengamankan aspek shallow gas hazards (terjadinya semburan gas yang tak terkendali dari sumur-sumur dangkal) dan total losses, karena melewati lapisan batuan gamping yang cukup tebal.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here