Oleh: Nurcholis / Yuliawan A

Poskaltim.com, Istanbul – Setahun tewasnya Jamal Khashoggi di tangan agen Saudi yang dikirim dari Riyadh, Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan Turki masih ingin mengetahui di mana jasadnya berada dan siapa yang menyuruh operasi tersebut – menyatakan hal itu dilakukan oleh agen “negara bayangan” di Arab Saudi.

Presiden Tayyip Erdogan mengatakan negaranya akan tetap bersikeras mengungkap kebenaran di balik pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul tahun lalu, demikian dikatakan hari Senin.

Dalam sebuah artikelnya di Harian Washington Post hari Senin, orang nomor satu di Turki itu mengaku akan terus mendesak pengungkapan keberadaan jasad Khashoggi dan identitas para pelaku yang bertanggung jawab.

Menanggapi banyaknya pertanyaan yang masih belum terjawab terkait proses pengadilan di Arab Saudi, dia melihat kurangnya transparansi di sekitar persidangan, kurangnya akses publik ke persidangan dan tuduhan bahwa sejumlah pembunuh Khashoggi menikmati kebebasan de facto gagal memenuhi harapan masyarakat internasional dan menodai citra Arab Saudi – sesuatu yang tidak diinginkan oleh Turki, sebagai teman sekaligus sekutu dekatnya.

Ia menggambarkan pembunuhan Khashoggi sebagai insiden yang paling berpengaruh dan kontroversial di abad ke-21, setelah serangan teroris 11 September 2001.

“Tidak ada peristiwa lain sejak 9/11 yang menimbulkan ancaman serius terhadap tatanan internasional atau menantang konvensi yang diterima begitu saja oleh dunia,” ujar Erdogan dikutip Anadolu Agency.

Erdogan menggambarkan pembunuhan Khashoggi tidak hanya sebuah tragedi tetapi juga penyalahgunaan kekebalan diplomatik secara terang-terangan dan mengatakan bahwa ke depannya, Turki berjanji untuk melanjutkan upayanya guna mengungkapkan pembunuhan Khashoggi.

“Kami akan terus mengajukan pertanyaan yang sama yang saya ajukan dalam sebuah editorial untuk surat kabar ini tahun lalu: Di mana jenazah Khashoggi? Siapa yang menandatangani surat kematian wartawan Saudi itu? Siapa yang mengirim 15 pembunuh, termasuk seorang ahli forensik, naik dua pesawat ke Istanbul?” tulis Presiden Turki itu.

“Adalah kepentingan terbaik kami, dan demi kebaikan umat manusia, untuk memastikan bahwa kejahatan seperti itu tidak dilakukan lagi di mana pun. Memerangi impunitas adalah cara termudah untuk mencapai tujuan itu. Kami berutang kepada keluarga Jamal,” tambah dia.

Penguasa de fakto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohamad bin Salman (MBS) saat wawancara dengan lembaga penyiaran AS, CBS, menyatakan “sama sekali” tidak memerintahkan pembunuhan Khashoggi, kendati ia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin negaranya.

Sebelas tersangka Arab Saudi diadili dalam persidangan rahasia namun hanya beberapa yang digelar. Laporan PBB meminta agar MBS dan sejumlah pejabat senior Saudi lainnya diselidiki.
CIA dan beberapa pemerintah Barat mengatakan mereka yakin MBS menginstruksikan operasi tersebut, sebuah pernyataan yang kerap dibantah oleh pejabat Saudi.

Khashoggi, wartawan Arab Saudi sekaligus kolumnis Washington Post, menjadi kritikus terkemuka terhadap kebijakan-kebijakan MBS.

Ia terakhir terlihat memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, tempat dirinya menerima berkas-berkas menjelang pernikahannya. Jasad Khashoggi dimutilasi lalu dibawa keluar dari gedung itu dan hingga kini masih belum ditemukan, menurut pejabat Turki.

Dalam artikelnya, Erdogan mengatakan faktanya bahwa para pembunuh melakukan perjalanan dengan paspor diplomatik dan “mengubah hubungan diplomatik menjadi wadah kejahatan” menjadi sebuah preseden yang berbahaya.

“Mungkin yang lebih berbahaya adalah impunitas yang tampaknya dinikmati para pembunuh di kerajaan tersebut,” tulisnya, menambahkan bahwa hampir tidak ada keterbukaan dalam proses pengadilan. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here