Bashar al-Assad (kanan)

Oleh: Nurcolis / Yuliawan A

Poskaltim.com, Kurdistan – Presiden Suriah Bashar al-Assad menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan “seorang fanatik Islam” dalam sebuah wawancara yang akan dirilis pada hari Senin. Bahkan Bashar al-Assad menyebut Erdogan sedang “mengamuk” di wilayah Kurdi di timur laut Suriah.

Komentar meremehkan pada Russia Today yang didanai pemerintah Rusia dirilis hari Sabtu ketika pasukan pemerintah Suriah bentrok dengan milisi bersenjata yang didukung Turki di timur laut Suriah, menyebabkan sejumlah perwira senior Suriah tewas, kutip Rudaway, Ahad (10/11) malam.

Assad, yang diyakini telah memenangkan perang melawat rakyatnya sendiri di tahun kedelapan berkat dukungan Iran dan sekutunya Rusia, menyebabkan ia semakin berani mengeluarkan pernyataan terhadap ‘musuh-musuh politik’ nya dalam beberapa bulan terakhir.

“Hubungan antara Erdogan dan UE adalah dua arah,” kata Assad ketika ditanya tentang ancaman Turki untuk membanjiri Eropa dengan migran. “Mereka membencinya tetapi mereka menginginkannya.
Mereka membencinya [karena] mereka tahu bahwa dia adalah seorang Islamis fanatik, mereka tahu ini, mereka tahu bahwa dia akan mengirim mereka para ekstrimis atau mungkin teroris, ” kutip Bashar al Asaad.

Rusia dan Turki menandatangani perjanjian pada 22 Oktober untuk menciptakan zona penyangga di timur laut Suriah dan membersihkan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), adalah kelompok yang dipimpin oleh PYD-YPG, cabang organisasi teror PKK di dari wilayah perbatasan Suriah. Partai-partai mengatakan bahwa gencatan senjata akan dilakukan tetapi pertempuran telah berkobar sejak itu.

Perjanjian Rusia-Turki datang setelah dua minggu pemboman Turki tanpa henti dan tembakan artileri di wilayah Kurdi diikuti oleh invasi darat oleh milisi yang didukung Turki pada 9 Oktober.

Erdogan, yang diperkirakan akan mengunjungi Washington pada hari Rabu untuk berbicara tentang Suriah.

“Apakah orang-orang Suriah ingin melihat orang seperti itu sebagai pemimpin? Karena saya mengatakan ini dengan jelas dan terbuka bahwa Assad sebenarnya adalah seorang teroris yang terlibat dalam terorisme negara,” tambahnya.

Hari Sabtu, pasukan udara Assad yang didukung Rusia melakukan pemboman besar-besaran terhadap kota Jisr al-Shughur di Provinsi Idlib barat laut, menewaskan sejumlah warga sipil.

Pertempuran sengit juga dilaporkan di pegunungan strategis Jabal al-Akrad di provinsi Latakia di mana sejumlah kelompok jihadis termasuk Hay’at Tahrir al-Syam memerangi pasukan pemerintah Suriah, yang didukung oleh Rusia dan milisi Syiah yang didukung Iran.

Revolusi Suriah
Bashar al Assad adalah salah satu tokoh terkejam abad ini, setelah serangkaian peristiwa yang lazim dijuluki “Musim Semi Arab” (Arab Spring) tahun 2011.

Negara Suriah tiba-tiba porak-poranda tepat pada bulan Maret 2011, ketika sekelompok remaja menuliskan grafiti di dinding Kota Daraʼa untuk menuntut perubahaan yang dikenal Revolusi Suriah atau Ats Tsaurah al Suriah.

Di bawah Assad, pemerintah justru memperlakukan para remaja yang aksi grafiti dengan gerakan penangkapan dan penyiksaan, membuat gelombang demonstrasi di Kota Daraʼa, merembet ke bebera kota lain.

Tak sekedar itu, Asaad justru mengundang masuk Rusia dan milisi Syiah Iran, hal ini ikut mengundang milisi rakyat yang tujuannya membela warga Suriah yang terdzalimi (khususnya Muslim Sunni) menuju Suriah, tak dipungkiri di antara mereka ada Daesh (IS), yang tidak mewakili mayoritas.

Masuknya Iran, mengundang milisi dan tentara bayaran Syiah dari berbagai negara dengan iming-iming “Surga”. Belakangan Rusia dan Iran menggunakan bahasa yang sama dalam kampanye perang yang disebutnya melawan “kelompok takfiri”, “perang terhadap teroris” dan prrang “melawan ISIS” sebagai alasan membunuhi rakyat Suriah.

Sesudah lima tahun perang yang melanda Suriah, setidaknya 400.000 warga Suriah telah tewas dan 70.000 lainnya tewas akibat tidak adanya sarana kebutuhan dasar macam air bersih dan kesehatan.
Lebih dari 700 ribu orang mengungsi ke luar Suriah (Turki, Libanon, Yordania dll.), dan sekitar 2 juta orang terpaksa meninggalkan rumah, kampung, dan kotanya, berpindah ke bagian lain di dalam Suriah sendiri (Internally Displaced Persons).

Tahun 2018, di kompleks kepresidenan di Ankara, Presiden Erdogan bahkan pernah mengatakan, Bashar al Assad telah membunuh 1 juta warganya.
Turki dan Arab Saudi dan banyak Negara Teluk kelompok paling keras menginkan Rezim Bashar al Assad turun sebagai alasan agar tidak banyak lahi korban warga sipil. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here