Oleh: Suandri Ansah / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta — Setiap musim kemarau selalu mengeksor asap ke negara tetangga Malaysia dan Singapura, namun pemerintah Indonesia tetap percaya diri untuk menolak bantuan para negara jiran tersebut.

Presiden Indonesia, Joko Widodo yang enggan menerima bantuan memdamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Selasa pekan lalu (10/9) Malaysia sebenarnya siap mengirim nota diplomatik terkait upaya pemadaman.

Asap secara rutin menyelimuti sebagian Asia Tenggara selama musim kemarau. Asap yang timbul dari pembakaran lahan untuk kelapa sawit, perkebunan kertas dan tanaman lainnya memicu kemarahan dari tetangga-tetangga regional.

“Urgensi sekarang adalah bagi Indonesia untuk memadamkan kebakaran dan pemerintah siap untuk menawarkan segala jenis bantuan untuk membantu Indonesia di Kalimantan dan Sumatra,” ujar Menteri Lingkungan, dan Perubahan Iklim Yeo Bee Yin dikutip Strait Times, Jumat (20/9).

Namun, sayangnya Indonesia menolak tawaran itu. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB, Agus Wibowo mengatakan Indonesia belum membutuhkan bantuan asing. Dia menyatakan bahwa Indonesia masih mampu menangani masalah ini.

Sejauh ini, Malaysia tidak mengungkit lagi mengapa Indonesia menolak bantuan tetangganya itu. Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengatakan, bahwa negaranya mempunyai peralatan pengeboman air yang bisa dimanfaatkan Indonesia memadamkan karhutla.

Saat ditanya pada konferensi pers tentang mengapa Presiden Indonesia, Joko Widodo tidak mau menerima tawaran Malaysia, Mahathir hanya menjawab, “Saya tidak tahu mengapa.”

“Saya tak tahu. Tanyalah (Jokowi), mengapa kamu tidak mau menerima bantuan kami? Tapi saya belum pernah melakukannya (bertanya ke Jokowi),” kata Mahathir dikutip Bernama.

Bernama melaporkan, menurut Indeks Pencemaran Udara (IPU) kualitas udara di Sri Aman, Sarawak mencapai tahap bahaya hari ini (20/9). Memburuknya udara dipengaruhi oleh karhutla di Kampung STC Sri Aman, Jalan Tisak Betong dan Jalan Ketajau.

Jabatan Alam Sekitar (JAS) dalam pernyataanya hari ini mengatakan, kebakaran yang sama turut menyebabkan IPU kawasan itu meningkat lebih 300 pada pukul 3.00 pagi 17 Septtember hingga pukul 2.00 pagi 18 September waktu setempat.

“Tindakan pemadaman sedang giat dilakukan oleh bomba di kawasan-kawasan berkenaan,” katanya. Bacaan IPU Sri Aman pada pukul 11 pagi tadi waktu setempat mencapai 417.

JAS menyatakan, karhutla di Sumatera dan Kalimantan, Indonesia masih menyebabkan asap lintas batas dan turut menpengaruhi peningkatan indeks IPU di semua kawasan di sepanjang pantai barat dan selatan Semenanjung Malaysia, barat Sarawak dan sekitar kawasan Tawau dan Sandakan, Sabah.

Berdasarkan laporan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) kemarin, data satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 20 menunjukkan 209 titik panas (hotspot) di Sumatera, 544 titik panas di Kalimantan, satu titik panas di Brunei Darusallam dan enam di Malaysia iaitu dua di Sarawak, dan dua titik di Sabah, satu titik di Terengganu dan Johor (YAN/INI Network).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here