Oleh: Nurcholis / Yuliawan A

Poskaltim.com, Srinagar-Setidaknya 2.300 orang pemuda yang sebagian besar pria telah ditahan di Kashmir, tanah yang dicaplok dan dikuasai India selama pembatasan keamanan dan pemadaman komunikasi yang diberlakukan untuk mengekang kerusuhan setelah New Delhi melucuti wilayah negara bagian yang disengketakan tersebut.

Menurut polisi Kashmir dikutip The Associated Press, mereka yang ditangkap termasuk pemrotes anti-India dan juga pemimpin Kashmir pro-India yang telah ditahan dipenjara dan fasilitas darurat lainnya, menurut tiga pejabat polisi.

Para pejabat memiliki akses ke semua catatan polisi tetapi berbicara dengan identitas yang dirahasiakan karena mereka tidak berwenang untuk berbicara dengan wartawan dan takut sanksi dari atasan.

Tindakan keras terhadap Kashrmir dimulai saat pemerintah nasionalis Hindu pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi pada 5 Agustus mencaplok dan mencabut status khusus Jammu dan Kashmir, yang sebelumnya memiliki hak menentukan undang-undang sendiri dan melarang orang asing memiliki properti di wilayah yang disengketakan India dan Pakistan tersebut.

Ribuan anggota tentara India tambahan dikirim ke Lembah Kashmir, yang telah menjadi salah satu wilayah yang paling termiliterisasi di dunia. Saluran komunikasi telepon, internet dan layanan TV kabel terputus untuk 7 juta penduduk lembah subur, meskipun beberapa komunikasi secara bertahap telah dipulihkan di beberapa tempat.

Penduduk Kashmir telah menggelar aksi protes dan bentrok dengan polisi sejak penindasan, dimana sekitar 300 orang menentang kontrol ketat India atas wilayah tersebut, kata tiga pejabat itu.

Salah satu pejabat mengatakan sebagian besar penangkapan telah dilakukan di Srinagar, kota utama Kashmir dan jantung dari gerakan 30 tahun untuk mengusir India yang mayoritas Hindu dari Kashmir yang mayoritas Muslim sehingga dapat eksis secara independen atau bergabung dengan Pakistan.

Baik India dan Pakistan mengklaim wilayah Kashmir yang disengketakan secara keseluruhan, tetapi masing-masing hanya mengendalikan sebagian saja. Status otonormi khusus Kashmir dilembagakan tidak lama setelah India mencapai kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1947.

Moses Dhinakaran, juru bicara Pasukan Polisi Cadangan Sentral, yang saat ini memegang yurisdiksi di Kashmir, mengatakan ia tidak tahu berapa banyak orang yang telah ditahan karena agensinya tidak memiliki “peran langsung”.
Keluarga-keluarga berkerumun di luar kantor polisi hari Selasa menunggu untuk memohon pembebasan putra, suami atau saudara mereka.

Lusinan pria dan wanita bersama anak-anak mereka duduk di jalan di luar kantor polisi Srinagar menunggu sekitar 22 pria dan remaja putra yang mereka katakan telah ditahan dalam serangan. Warga mengatakan polisi dan tentara melakukan penggerebekan.

Ali Mohammed Rah mengatakan polisi dan tentara menyerbu rumahnya dan menyeret kedua putranya, yang masih berusia 14 dan 16 tahun, dari tempat tidur mereka.

“Mereka memaksa masuk, menodongkan senjata mereka pada kami sambil memerintahkan kami untuk tidak membunyikan alarm,” kata Rah dikutip AFP.

Raj Begum mengatakan bahwa putranya yang berusia 24 tahun dibawa pergi tanpa alas kaki dan hanya mengenakan celana pendek.

“Tentara memukul saya dengan papan kayu ketika saya mencoba menahan penangkapan anak saya,” katanya. Suaminya, Abdul Aziz, memajang tas sepatu dan pakaian untuk putra mereka.

Di Washington, seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang identitasnya tak mau disebutkan mendesak India mengembalikan hak asasi manusia dan kebebasan dasar bagi semua warga Kashmir, termasuk pembebasan tahanan, dan kemudian berharap politik berjalan normal.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here