Pasar tradisional Segiri Samarinda yang kerap digunakan oleh pengedar narkoba untuk bertransaksi. Cap Pasar Segiri sebagai sarang narkoba pun melekat sejak beberapa tahun terakhir.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Melekat dengan cap sebagai sarang narkoba, pasar Segiri Kota Samarinda berbenah dengan meminimalisir ruang gerak transaksi narkoba melalui pembentukan Posko Anti Narkoba yang diresmikan oleh Kapolda Kaltim Irjen Pol Priyo Widyanto, Rabu siang (28/8).

Peresmian Pokso Segiri Bersinar (Segiri Bersih dari Narkoba) di areal seluas 4×7 meter ini juga disaksikan oleh Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, Kepala BNNP Kaltim Brigjen Raja Haryono, BNN Kota Samarinda AKBP Siti Zaeqomsyah, Kapolres Samarinda Komisaris Besar Pol Vendra Rivianto dan sejumlah camat, lurah dan ketua RT di lingkungan Kecamatan Samarinda Ulu.

“Mungkin hanya di Samarinda orang tidak saja bertransaksi perdagangan dan berbelanja, tetapi ada juga yang bertransaksi barang haram narkoba. Harusnya pasar menjadi sarana berbelanja kebutuhan pokok yang sehat, tetapi ini ada pasar yang berdagang barang yang justru merusak kesehatan pemakainya,” tegas Priyo.

Dipilihnya Pasar Segiri sebagai tempat pembangunan Posko terpadu anti narkoba ini karena Pasar terbesar di Samarinda ini, telah terpapar peredaran narkoba. Beberapa kali pihak kepolisian membongkar jaringan dan transaksi namun perbuatan melawan hukum ini terus saja muncul tanpa jera.

Kapolda Kaltim Irjen Pol Priyo Widyanto berbincang dengan beberapa orang warga di lingkungan Pasar segiri Samarinda, yang kerap dijasikan tempat peredaran narkoba.
Sementara itu, Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang memaparkan jika Pasar Tradisional Segiri ini berdiri ai areal tanah seluas 5 hektare dan menampung sebanyak 1.749 pedagang. Selain itu pasar yang diresmikan akhir tahun 1975-an ini memiliki rumah toko (Ruko) sebanyak 151 unit, 709 kios pedagang, serta terdapat pedagang tidak resmi yang berjualan disembarang tempat (non kios) sebanyak 619 orang.

“Pasar Segiri ini juga menjadi satu-satunya pasar yang di dalamnya terdapat pemukiman warga yaitu di RT 26, 27, dan RT 28, dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 553 orang. Warga ini umumnya berdiam di bantaran Sungai Karang Mumus terdiri dari 448 bangunan yang akan segera kita normalisasi. Umumnya mereka mendirikan bangunan di tanah pemerintah, jadi mohon maaf, tidak akan ada ganti rugi untuk pembongkaran bangunannya,” tegas walikota Syaharie Jaang.

Diakhir acara Kapolda dan sejumlah tokoh masyarakat memasangkan rompi Kader Anti Narkoba dari perwakilan masyarakat dilanjutkan dengan penekanan tombol sirine. Posko ini nantinya akan beroperasi selama 24 jam dijaga oleh masyarakat dan anggota kepolisian dengan tugas utama sosialisasi bahaya narkotika, kompilasi dan pertukaran informasi serta membantu memberikan informasi kepada kepolisian jika ada aktivitas transaksi narkoba.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here