Politikus PKS, Nasir Djamil, saat ditemui di Gedung DPR mengatakan PKS tidak terlalu berambisi mendapatkan jatah menteri. Dia mengaku tahu diri dan sadar diri sehingga tak mau ‘mengemis’ ke Jokowi.

Oleh: Muhajir / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Pesta demokrasi lima tahunan telah usai. Pemilihan presiden (Pilpres) dimenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf. Namun, penetapan presiden dan wakil presiden terpilih oleh KPU tidak otomatis menurunkan suhu politik. Kini, rebutan kursi menteri menjadi topik yang ramai diperbincangkan.

Tak hanya partai koalisi pemerintah, parpol pengusung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 juga kerap kali diwartakan mengincar kursi di kabinet kerja Jokowi-Ma’ruf. Sampai hari ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi satu-satunya partai yang vokal menyuarakan tetap oposisi.

Politikus PKS, Nasir Djamil, saat ditemui di Gedung DPR mengatakan PKS tidak terlalu berambisi mendapatkan jatah menteri. Dia mengaku tahu diri dan sadar diri sehingga tak mau ‘mengemis’ ke Jokowi.

“Kalau kemudian ditanya PKS kenapa memilih untuk beroposisi. Karena kami sadar diri, kami ini tau diri, kami ini berusaha untuk mematuh diri, sehingga kami tidak kehilangan pendirian,” kata dia, hari ini (8/8).

Menurut dia, sudah sepantasnya partai pengusung Jokowi-Ma’ruf mendapatkan imbalan dari kinerjanya saat pemilu 2019. Nasir mengistilakan kursi menteri sebagai ghanimah yang wajar diberikan kepada partai koalisi.

“Maka biarlah kemudian partai-partai berkeringat yang menikmati harta rampasan perang itu. Biarlah partai-partai itu menikmati ghonimahnya,” kata dia.

Selain itu, Nasir juga menganjurkan Jokowi agar tidak perlu menambah partai dalam koalisi. Menurut dia, koalisi gemuk justru akan merepotkan presiden.

“Menurut saya presiden harus punya komitmen terkait masalah ini,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here