Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Tutuk SH Cahyono (dua dari kiri)

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur di triwulan II 2019 tumbuh sebesar 5,43 persen (year on year) atau sedikit lebih rendah daripada triwulan sebelumnya yang berada pada posisi 5,46 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Kaltim periode ini tercatat lebih tinggi dibandingkan nasional yang mencapai sebesar 5,05% (yoy), namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan sebesar 5,60% (yoy). Akselerasi lapangan usaha pertambangan dipengaruhi oleh faktor pasokan dan permintaan. Walau begitu harga batu bara belum sebagus ketika saat booming beberapa tahun silam,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Tutuk SH Cahyono, saat bincang-bincang dengan beberapa media massa di Samarinda, Selasa (3/9).

Dijelaskan, di sisi permintaan, peningkatan permintaan batubara yang cukup tinggi dari Tiongkok mendorong kinerja ekspor luar negeri Kaltim. Peningkatan permintaan batubara tersebut sejalan dengan aksi frontloading importir batubara Tiongkok menyusul rencana kebijakan restriksi impor oleh Pemerintah Tiongkok.

“Pada triwulan III 2019, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Kaltim tetap tumbuh positif namun lebih rendah dibandingkan triwulan II 2019,” ujar Tutuk yang didampingi oleh Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang Rupiah BI Kaltim, Yudhistira, Kepala Biro Perekonomian Pemprov Kaltim H Nazrin, Kepala Tim Advisory Ekonomi & Keuangan BI Kaltim, Harry Aginta dan Kepala Tim Pengembangan Ekonomi, Prabu Dewanto.

Melambatnya ekonomi Kaltim bersumber dari permintaan eksternal untuk komoditas batubara yang mulai menurun. Pemerintah Tiongkok mulai menerapkan restriksi impor per Juli 2019 untuk menjaga target impor batubara sesuai target di akhir tahun 2019. Langkah ini juga diambil untuk mendukung penjualan batubara domestik Tiongkok yang mulai kehilangan kompetitifnya karena harga di pasar internasional yang terus turun.

Sementara untuk perkembangan inflasi di Kaltim, Tutuk menjelaskan inflasi di Kaltim berada dibawah level nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,12% (mtm) pada Agustus 2019. Penurunan tekanan inflasi Kaltim Agustus 2019 terutama dipengaruhi oleh deflasi pada kelompok bahan makanan dan transportasi dan komunikasi. Adapun komoditas kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi antara lain kangkung, bawang merah dan sawi hijau.

“Sampai dengan Agustus 2019, inflasi tahun kalender Kaltim tercatat 1,69% (ytd) atau secara tahunan mengalami inflasi 1,74% (yoy), masih dalam rentang target inflasi nasional tahun 2019 sebesar 3,5±1% (yoy). Kita berharap inflasi Kaltim pada akhir tahun dapat di bawah inflasi nasional,” ujar Tutuk.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here