Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun.

Oleh: Ahmad ZR / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Pertemuan Prabowo Subianto dan Megawati Soekarno Putri di Jakarta, Rabu (24/7) dinilai oleh Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun sebagai sesuatu yang sangat memberikan penilaian positif.

Menurut dia, pertemuan antarelite politik adalah budaya baik Bangsa Indonesia sejak era kemerdekaan yang telah dicontohkan para pendiri bangsa, di antaranya Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Wahid Hasyim, Mohammad Natsir, dan lain-lain.

“Pertemuan Prbowo dengan megawati tampaknya didasari oleh spitir yang sama untuk merawat budaya baik itu terutama untuk menurunkan tensi sosial politik, menjaga keutuhan bangsa. Meski juga ada kesan penjajagan untuk agenda 2024,” kata Ubedilah kepada Indonesia Inside di Jakarta, Kamis (25/7).

Selain itu, Ubedilah menilai tafsir lain dimungkinkan muncul dari pertemuan tersebut. Misalnya, dapat diartikan sebagai momentum permintaan maaf Megawati pada Prabowo soal luka hati Prabowo yang pernah tergores akibat perjanjian Batu Tulis satu dekade silam. Dalam perjanjian itu, PDIP berjanji untuk mengusung Prabowo sebagai capres pada Pemilu 2014 didukung koalisi dengan Partai Gerindra. Namun perjanjian itu akhirnya dilanggar, dan rencana pencalonan Prabowo oleh PDIP malah ditelikung Jokowi.

Tafsir berikutnya, kata Ubedilah, ada semacam tawaran Megawati untuk mengajak Prabowo berada di istana. Kemungkinan jabatan yang ditawarkan Megawati untuk Prabowo adalah Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Namun, tampaknya Prabowo akan memberikan syarat tertentu yang tidak mudah dipenuhi Jokowi terkait gagasan Prabowo soal energi dan pertanian.

“Itulah sebabnya Jokowi belum mau bertemu bertiga bersama Prabowo dan Megawati karena dampaknya pada susunan kabinet yang akan memicu resistensi partai koalisi Jokowi lainya seperti Golkar, NasDem, PKB, dan PPP,” kata Ubedilah.

Selain kemungkinan-kemungkinan di atas, Ubedilah menganggap pertemuan tersebut dapat menurunkan tensi politik yang masih saja tinggi setelahj Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan sengketa Pilpres 2019 dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan presiden terpilih.

“Jadi, pertemuan Prabowo Megawati akan mampu meredakan ketegangan psikologis kedua tokoh tersebut tetapi memicu ketegangan baru di partai koalisi Jokowi lainya,” ujarnya.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here