Isteri sah Ansar, Hervina memperlihatkan surat surat nikah pasangan sedarah kakak-beradik.(foto::INI Network)

Oleh: Andrie Aprianto

Poskaltim.com, Balikpapan — Dunia maya di Kota Balikpapan mendadak ramai karena imbas berita soal terjadinya pernikahan sedarah antara kakak-beradik yang dilakukan oleh warga Bulukumba, Sulawesi Selatan yakni Ansar dan Fitriani.

Dikabarkan, kedua pasangan ini pergi dari tempat asal mereka di Sulsel dan usai “menikah” mereka pergi ke Kalimantan, tepatnya menetap di Kota Balikpapan. Setelah ditelusuri, mereka diduga tinggal di Jalan Tirtayasa RT 58 Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah.

Saat Poskaltim.com mencoba mencari keterangan dari Ketua RT 58 Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah, Gatot Utomo (58) dirinya menjelaskan jika tidak mengetahui adanya peristiwa tersebut dilingkungannya. Bahkan dirinya baru mengetahui adanya peristiwa tersebut, saat dihubungi oleh orang dari KUA Balikpapan Tengah.

“Enggak tau sama sekali saya soal itu. Malah saya baru tau tadi pagi pas Pak Yudi (orang KUA Balikpapan Tengah) menelepon. Dan barusan juga Pak Lurah sama dia datang kesini menanyakan yang sama juga,” ujar Gatot Utomo.

Saat ditampakkan dengan foto-foto acara pernikahan yang beredar luas di sosial media, Gatot tidak mengenali orang-orang yang ada di foto tersebut. Bahkan lokasi dan ciri-ciri rumah yang dijadikan tempat pernikahan juga tidak terdapat dilingkungannya.

“Saya jadi RT sejak 1993. Jadi tau rumah-rumah disini. Tapi yang difoto itu enggak tau. Bahkan orang-orang (di dalam foto) itu enggak pernah saya liat (dilingkungan) saya,” terangnya.

Meski diakui Gatot jika dilingkungannya memang banyak pendatang yang tinggal, hal ini dikarenakan banyaknya warga yang membuka usaha kos-kosan, namun dirinya menegaskan jika kejadian tersebut tidak terjadi di lingkungannya.

“Memang ada banyak kos-kosan disini, tapi saya tahu persis lah lokasi kosnya dan warga saya disini,” tegasnya.

Sementara itu saat dikonfirmasi, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Balikpapan Hakimin, yang sedang berada di luar kota menjelaskan, Kemenag Balikpapan tidak pernah memfasilitasi pernikahan tersebut. Dan pihaknya telah menanyakan kepada seluruh kepala KUA di Balikpapan.

“Sudah ditelusuri pada enam KUA, semuanya tidak ditemukan adanya pernikahan itu, juga nama yang menikah itu (tidak ada),” ujar Hakimin melalui sambungan teleponnya, pada Rabu (3/7).

Lanjut Hakimin, dirinya menduga terjadinya pernikahan tersebut dilakukan secara siri. Karena jika terjadi secara hukum, tentunya hal tersebut tidak dibenarkan, baik secara agama maupun aturan di Indonesia.

“Mungkin saja nikah siri. Kalau tercatat tidak mungkin bisa. Tapi kalau siri tidak tercatat bisa-bisa aja kan,” terangnya.

Kemenag Balikpapan pun akhirnya mengeluarkan sebuah surat yang diterbitkan tertanggal 3 Juli 2019 terkait perihal Hasil Penelusuran Kasus Nikah Sedarah yang tidak ditemukan di Balikpapan ini.(AND/YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here