Penerapan kalender Islam atau dikenal dengan nama Kalender Hijriyah di Negara-negara mayoritas muslim harusnya dapat diterapkan dengan keseragaman kalender.

Oleh: Ahmad ZR / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta — Penerapan kalender Islam atau dikenal dengan nama Kalender Hijriyah di negara-negara mayoritas muslim harusnya dapat diterapkan dengan keseragaman kalender.

Selain itu, kalender Islam secara global diperlukan untuk menguatkan ersaudaraan sesama Muslim. Khususnya di Indonesia, memang setiap organisasi masyarakat (ormas) memiliki metodologi dan cara berbeda dalam menetapkan awal bulan (hilal).

Perbedaan ini memang perlu disikapi dengan penuh hati-hati karena merupakan bagian dari agama khususnya dalam penetapan hari raya Islam dan bulan-bulan ibadah seperti Ramadan.

“Semuanya jadi ber-ijtihad. Karena dalam ushul fiqih jika ijtihad benar mendapatkan dua pahala sedangkan salah dapat satu,” kata Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad di pengajian bulanan Muhammadiyah di gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (6/9).

Prof Kahmad menyebutkan, di antara kesepakatan ulama dalam penentuan tanggal terdapat enam metode, yaitu Ijtima qablal gurub (ketika mataharii belum terbenam sudah berganti hari), imkanur rukyah dengan perhitungan dua dan empat derajat, wujudul hilal, rukyat lokal yang selalu dilakukan petugas Kementerian Agama, rukyat global, dan hisab kurdi Masing-masing memiliki metodologi tersendiri.

“Nah, inilah perlunya kita menyepakati satu kalender bersama atau disebut konsensus,” katanya.

Dalam penelitian dan penentuan awal bulan, ujarnya, harus berhati-hati karena merupakan bagian dari agama. Menurut dia, Muhammadiyah berpacu pada tiga hal dalam penentuan awal hilal, yaitu ilmu, akhlak, dan spiritualitas.

“Muhammadiyah memakai wujudul hilal dengan dasar ilmu yang kuat dan perhitungan akurat, sehingga kita sudah punya perhitungan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan,” ujarnya.

Dia mengatakan, akhlak tidak bisa dipisahkan dalam penentuan awal bulan. Dia juga menyinggung salah satu bentuk penerapan akhlak bagi Muhammadiyah dalam interaksi sosial. Muhammadiyah dinilai organisasi cukup ramah kepada masyarakat dengan beragam latar belakang.

“Kenapa Muhammadiyah menjadi sahabat masyarakat Papua? Karena Muhammadiyah kerja nyata melalui bakti sosial, pendidikan dan lain sebagainya,” katanya.

Keyakinan akidah Muhammadiyah, menurut dia, masih dianggap murni dan tidak tercampuri dengan budaya yang bukan berasal dari Islam. Keyakinan ini dianggap menjadi modal dalam menjalin hubungan sosial dengan masyarakat.

“Orang Muhammadiyah dinilai memiliki spiritualitas tinggi,” katanya.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here