Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Pengendalian inflasi yang rendah dan stabil diperlukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Kemampuan untuk menjaga agar inflasi tetap rendah dan stabil ini bukan berarti menekan pendapatan petani tetapi, tidak memperbesar keuntungan penjual, sehingga tidak membebani daya beli masyarakat.

Demikian yang dikatakan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Tutuk SH Cahyono pada acara silaturahmi dengan Pemerintah Kota Samarinda terkait keberhasilan Kota Samarinda mendapatkan predikat kota yang mampu mengendalikan inflasi, pada Kamis siang di Kantor BI Kaltim, (22/8).

“Inflasi memang dibutuhkan tetapi tidak boleh terlalu tinggi. Kalau terlalu tinggi (menimbulkan) gejolak yang tidak nyaman bagi dunia usaha . Dampaknya adalah nilai tukar juga akan bergejolak. Jadi yang sedang-sedang saja, yang tengah-tengah saja, agar ekonomi dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Dijelaskannya, inflasi sebagai salah satu indikator tingkat kemajuan negara harus terus dijaga pada tingkat yang rendah dan stabil. Sehingga inflasi dapat memberikan stimulus pada produsen dan dunia usaha serta tidak memberikan tekanan yang besar pada konsumen.

Di Kaltim terdapat komoditas yang menyumbang inflasi yang cukup tinggi setiap bulannya yaitu daging ayam ras dan cabai rawit. Sementara yang berpotensi menurunkan inflasi adalah tiket angkutan udara dan ikan layang.

Tutuk memberi ucapan selamat kepada Provinsi Kaltim, Kota Samarinda dan Kabupaten Mahakam Ulu yang telah meraih penghargaan predikat Tim Pengendali Inflasi Terbaik tahun 2018 yang diserahkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada pertengahan Juli lalu.

Kaltim berhasil memperoleh predikat TPID Terbaik tahun 2018 untuk wilayah Kalimantan, bersama provinsi lainnya yaitu Provinsi Bengkulu (wilayah Sumatera), DKI Jakarta (wilayah Jawa-Bali), Provinsi Gorontalo (wilayah Sulawesi) dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua).

Sementara itu, Penghargaan TPID Terbaik kategori Kota berhasil diraih oleh Kota Samarinda yang mewakili wilayah Kalimantan. Sedangkan Kota Tanjung Pinang mewakili wilayah Sumatera, Kota Kediri mewakili wilayah Jawa-Bali, Kota Palopo mewakili wilayah Sulawesi dan Kota Mataram, mewakili wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Untuk penghargaan TPID Terbaik tingkat Kabupaten, lagi-lagi Kaltim meraihnya untuk Kabupaten Mahakam Ulu yang mewakili wilayah Kalimantan. Sedangkan untuk wilayah Sumatera direbut oleh Kabupaten Deli Serdang untuk wilayah Sumatera, Kabupaten Badung yang mewakili wilayah Jawa-Bali, Kabupaten Puhuwako yang mewakili wilayah Sulawesi, dan Kabupaten Lombok Barat yang mewakili wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

“Jadi Kaltim ini merebut tiga penghargaan sekaligus. Ini merupakan satu kebanggaan. Daerah lain tentu ingin belajar terhadap Kaltim. Jadi penting bagi kita untuk ATM, amati, tiru dan modifikasi agar keberhasilan TPID tahun 2018 dapat terulang di penilaian TPID 2019 mendatang,” harapnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here