Oleh: Anisa Tri K / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Kecintaan musisi Chrisye atau yang lahir dengan nama Christian Rahardi, merupakan musisi yang dikenang sepanjang jalan blantika musik Indonesia.

Chrisye yang lahir di Jakarta pada tanggal 16 September 1949 ini merupakan anak dari keluarga Laurens Rahadi (Lauw Tek Kang), seorang wirausaha keturunan Betawi-Tionghoa, dan Hanna Rahadi (Khoe Hian Eng), seorang ibu rumah tangga keturunan Sunda-Tionghoa. Chrisye merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, Joris dan Vicky.

Kecintaan Chrisye pada dunia musik terlihat sejak dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia mulai mendengarkan piringan hitam milik ayahnya. Dia bernyanyi mengiringi lagu-lagu Bing Crosby, Frank Sinatra, Nat King Cole, dan Dean Martin.

Chrisye remaja semkain tertarik dengan dunia musik, tatkala Beatlemania tiba di Indonesia. Menanggapi minat Chrisye untuk bermain musik, ayahnya membeli sebuah gitar, namun Chrisye memilih gitar bas, dengan anggapan bahwa jenis gitar itulah yang paling mudah dipelajari.

Ngeband dan Awal Mula Merokok
Saat di SMA, Chrisye diam-diam mulai merokok. Pada suatu saat, dia ditangkap kepala sekolah dan dihukum dengan merokok delapan batang secara bersamaan di depan siswa-siswi lain. Inilah yang membuat ia trus merokok sehingga menjadi perokok berat.

Sekitar tahun 1969, Gauri mengundangnya untuk menjadi anggota band Nasution; Sabda Nada, untuk menggantikan pemain bas mereka yang sedang sakit, Eddi Odek. Karena puas dengan kemampuannya, Nasution bersaudara minta Chrisye menjadi anggota tetap.

Sabda Nada bermain secara teratur di Mini Disko di Jalan Juanda serta untuk pesta ulang tahun dan pernikahan. Ketika Chrisye diberi kesempatan untuk menyanyikan lagu versi daur ulang, saat itu, dia berusaha untuk menggunakan suara yang mirip penyanyi aslinya.

Chrisye Berhenti Kuliah
Pada tahun 1969, Sabda Nada mengganti nama mereka menjadi Gipsy. Jadwal mereka sangat padat, akibatnya, Chrisye menghentikan studinya di UKI. Pada tahun 1970, dia masuk ke Akademi Pariwisata Trisakti karena mengganggap jadwalnya lebih fleksibel.

Dua tahun kemudian, Chrisye mendapat kesempatan untuk main di New York. Saat itu, Chrisye takut untuk menceritakan hal tersebut kepada ayahnya. Dia berpikir ayahnya tidak akan menyetujui, ia bahkan jatuh sakit selama beberapa bulan, sementara Gipsy pergi ke New York tanpa dirinya.

Karena kecintaanya terhadap musik, Chrisye akhirnya menceritakan kepada ibunya. Ayahnya pun menyetujui agar dia mengundurkan diri dari kuliah dan pergi ke New York. Setelah kesehatannya membaik, pada tengah tahun 1973, dia pergi bersama Pontjo untuk bertemu dengan Gipsy di Amerika Serikat. Di tahun yang sama, Chirsye kembali mengundurkan diri dari universitas.

Selama di New York, Gipsy manggung di Ramayana Restaurant milik perusahaan Pertamina. Band itu ditempatkan di suatu apartemen di Fifth Avenue. Gipsy berada di New York sekitar satu tahun. Mereka menyanyikan lagu-lagu Indonesia serta versi daur ulang dari lagu Procol Harum, King Crimson, Emerson, Lake & Palmer, Genesis, serta Blood, Sweat, and Tears.

Pada pertengahan tahun 1975, dengan beberapa minggu tersisa di kontrak kerjanya, orang tua Chrisye di Jakarta memberi tahu jika saudaranya Vicky meninggal akibat infeksi lambung. Karena tidak dapat kembali langsung ke Jakarta, pikirannya jadi kacau. Saat kembali ke Indonesia, Chrisye tak berhenti-henti menangis dalam pesawat dan menjadi depresi.

Sempat Berhenti Bermusik
Akibat persitiwa itu, Chrisye sempat berhenti bermain musik. Setelah beberapa waktu tidak bermain musik, Chrisye dihubungi oleh Nasution bersaudara dan diundang untuk bergabung kembali dengan Gipsy, yang saat itu bekerja sama dengan Guruh Soekarno.

Guruh juga menawarkan beberapa lagu untuk Chrisye. Setelah mengatasi rasa depresinya, Chrisye mengikuti latihan bersama Guruh. Chirsye kembali menemukan dirinya di musik, mereka berlatih sampai larut malam. Perekaman terjadi pada pertengahan tahun 1975, dengan hanya empat lagu yang terselesaikan dalam beberapa bulan pertama. Pada tahun 1976 album Guruh Gipsy diluncurkan dan diterima baik oleh para kritikus.

Pada akhir tahun 1976, Chrisye dihampiri oleh Jockie Soerjoprajogo, seorang pencipta lagu, dan Imran Amir, pemimpin Radio Prambors. Mereka meminta agar Chrisye menjadi vokalis untuk Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors. Tawaran ini sempat ditolak Chrisye. Beberapa hari kemudian, Sys NS, yang pada saat itu bekerja di Prambors, mendekati Chrisye. Waktu itu, Chrisye sedang berbincang dengan Guruh dan Eros Djarot. Sys menekankan bahwa Chrisye diperlukan untuk lagu “Lilin-Lilin Kecil” karya James F. Sundah.

Setelah mendengar lirik lagu tersebut, Chrisye setuju. Lagu ini direkam di dan dimuat dalam sebuah album dengan pemenang lomba lain. Awalnya, “Lilin-Lilin Kecil” dimuat di urutan kesembilan, tetapi akhirnya dipindahkan ke urutan pertama supaya lebih laris. Strztegi ini berhasil, Chrisye membawa lagu ini menjadi terkenal, bahkan album LCLR 1977 menjadi album paling laris pada tahun itu.

Berjodoh Dengan Anak Gaul Jakarta
Biar pun memilik banyak penggemar, Chrisye sampai awal tahun 1980-an jarang berpacaran. Meskipun begitu, di balik sosoknya yang nampak tenang dan pendiam, Chrisye ternyata pernah menjadi bagian dari ingar-bingar aktivitas anak gaul Jakarta era 70-an. Lampu-lampu disko yang berpadu dengan musik ajojing dari band penghibur, menjadi pelengkap pesta rumahan anak gaul Jakarta era 70an. Chrisye kemungkinan besar jadi salah satu tamu undangan penting di acara itu.

Bersama bandnya, Chrisye tampil menghibur lewat suara merdu mengiringi ajojing anak gaul Jakarta. Lewat kepiawaiannya bermusik, Chrisye menjadi bagian dari sejarah anak gaul ibu kota pada masa itu. Lewat gemerlap pesta itu pula, Chrisye bertemu dengan pujaan hati, Gusti Firoza Damayanti Noor yang juga bagian dari anak gaul Jakarta tempo dulu.

Dari pesta anak gaul itu, Chrisye dan Yanti berteman. Awalnya, keduanya hanya bertukar pandang, sampai pada akhirnya mereka baru benar-benar menjalin hubungan ketika Chrisye mulai naik daun dan Yanti menjadi sekretaris Guruh Soekarnoputra.

Hubungan Chrisye dan Yanti terjalin lewat musik. Pasalnya, Yanti juga berasal dari keluarga musik dan tergabung dalam sebuah grup vokal. Selama berpacaran layaknya anak muda, Chrisye kerap mengajak Yanti menonton bioskop bersama. Perlahan, kebiasaan khas anak gaul itu berubah ketika Chrisye dan Yanti berstatus sebagai suami istri. Pada tahun 1982 Chrisye menjadi mualaf. Kisah cinta Chrisye dan Yanti akhirnya diresmikan pada 12 Desember 1982.

Transformasi Anak Gaul Menjadi Bapak Rumah Tangga
Berstatus sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah, Chrisye fokus bekerja dengan berkarya lewat musik. Selain di studio musik, hari-hari Chrisye lebih banyak dihabiskan di rumah.

“Dia orang rumahan. Kalau enggak penting banget, malas keluar. Mungkin juga dia agak terganggu dikenal orang,” ucap Yanti.

Di awal pernikahannya, Chrisye bekerja keras membangun rumah untuk keluarga. Dia dan Yanti sempat tinggal di rumah orangtua mereka selama enam tahun. Baru pada tahun 1988, mereka pindah ke rumah mewah di kawasan Cipete. Di rumah itu, Chrisye melakoni berbagai hobi. Jika tak bekerja, Chrisye lebih memilih berada di rumah ketimbang jalan-jalan keluar. Mulai dari menyikat kamar mandi, olahraga rutin dengan mencuci mobil, hingga berkebun dan memelihara hewan dilakukan Chrisye.

Karir Gemilang
Menasbihkan diri sebagai musisi, nyatanya menghantarkan Chrisye menjadi salah satu musisi legendaris Indonesia. Tercatat lebih dari 25 tahun semasa karirnya, Chirsye sudah menelurkan 18 album solo, serta main dalam satu film: Seindah Rembulan (1981). Chrisye dikenal sebagai musisi yang memiliki vokal halus dan gaya panggung yang kaku.

Kendati demikian, karena ciri khasnya tersebut Chrisye dianggap salah satu penyanyi Indonesia legendaris. Lima album yang termasuk karyanya dimuat dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik oleh majalah musik Rolling Stone Indonesia. Beberapa albumnya disertifikasi perak atau lebih tinggi.

Dia menerima dua lifetime achievement award, satu pada tahun 1993 dari BASF Awards dan satu lagi pada tahun 2007 dari stasiun televisi SCTV. Pada tahun 2011, Rolling Stone Indonesia mencatat Chrisye sebagai musisi Indonesia terbaik nomor tiga sepanjang masa. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here