Oleh: Rio AP / Yuliawan A

Poskaltim.com, Palembang — Arkeolog Badan Arkeologi Sumatera Selatan, Retno Purwanti di Palembang mengatakan alur sejarah Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan terancam hilang, jika perburuan harta karun liar yang marak dilakukan pemburu terus terjadi di wilayah setempat. Ini disampaikan.

“Hilang konteks sejarah jika terus diburu. Itu membuat kita enggak punya bukti, alur sejarahnya hilang, masa Sriwijaya atau enggak,” ujar Retno, Senin (7/10).

Menurut dia, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, benda peninggalan yang bisa ditetapkan sebagai cagar budaya tidak harus dimiliki oleh pemerintah. Namun, kata dia, pemilik perorangan maupun berbentuk badan hukum diwajibkan melaporkan dan mendaftarkan ke pemerintah agar bisa diteliti.

Namun, lanjut dia, penemuan harta karun yang tidak dilaporkan kepada pemerintah menyulitkan pendataan barang peninggalan masa lalu tersebut. “Kalau didaftarkan, kita bisa merinci, mendata, dan sebagainya,” ucap Retno.

Ia menyebut, di pasal 12 UU Cagar Budaya tercantum setiap orang dapat memiliki dan atau menguasai benda, bangunan, struktur, atau situs cagar budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosialnya. Kepemilikan itu dapat diperoleh melalui pewarisan, hibah, tukar-menukar, hadiah, pembelian, atau putusan atau penetapan pengadilan, kecuali yang dikuasai oleh negara.

Kemudian, pada pasal 23 disebut setiap orang yang menemukan benda cagar budaya paling lama 30 hari sejak ditemukannya. Apabila tidak dilaporkan oleh penemunya dapat diambil alih oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Selanjutnya, pasal 29 menyebut bahwa pendaftaran itu tidak dipungut biaya.

Dia pun menambahkan, jika pemilik benda peninggalan bersejarah melapor, pemerintah nanti akan mengeluarkan sertifikat kepemilikan beserta informasi lengkap mengenai benda peninggalan tersebut.

“Diperjualbelikan boleh, tapi jangan ke luar negeri, hilang nanti. Yang saya tahu, ada pemodalnya dari Jawa Timur dan Lampung untuk ambil itu barang, nanti dijual di Bali. Ada juga yang dijual ke London,” tambah dia.

Pihaknya menilai, pencarian barang peninggalan berharga itu merupakan kegiatan yang ilegal apabila dilakukan di lokasi yang sudah pernah diteliti oleh pemerintah. Adapun beberapa lokasi yang sudah pernah menjadi lokasi penggalian pemerintah yakni di kawasan Karang Agung, Tulung Selapan, dan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang ramai diberitakan.

Diketahui, belakangan ini ditemukan koin dan lempengan berbahan emas, perunggu, dan timah di lahan gambut yang menjadi lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tulung Selapan dan Cengal, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here