Dampak tumpahan minyak masih terlihat di beberapa spot di pantai Balikpapan, yang diperkirakan baru aman dalam 10 tahun mendatang

By : Andrie Aprianto

Balikpapan, Poskaltim.com — Peristiwa bocornya pipa minyak mentah milik Pertamina Balikpapan yang dialirkan dari Kelurahan Lawe-Lawe, Kecamatan Penajam menyeberangi laut menuju Balikpapan, hingga kini masih dinyatakan belum aman bagi manusia dan lingkungan hidup.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan, Suryanto mengatakan jika limbah minyak mentah yang telah mencemari laut Teluk Balikpapan dampaknya bisa puluhan tahun.

“Gak gampang membersihkan limbah Bahan Berbahaa dan Beracun (B3) yang pernah mencemari perairan Balikpapan, meski nampak dipermukaan pantai sudah bersih, tapi di dasarnya belum tentu (aman),” ujarnya, Sabtu (16/3) .

Dari kejadian tersebut banyak sekali yang menjadi korban, tidak hanya manusia tetapi lingkungan juga terkena imbasnya.

Meski sudah satu tahun berlangsung, namun nyatanya perairan Balikpapan ternyata belum aman bagi warga. Sebut saja warga yang kesehariannya menjadi nelayan hingga warga yang ingin berenang di pantai.

Menurutnya untuk membuat perairan Balimpapan benar-benar bersih sampai seratus persen,  membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Pada saat melakukan penanggulangan tumpahan minyak tersebut, seluruh instansi terkait dan pemerintah hanya menggunakan Dispersan, dimana ini hanya membuat kandungan minyak turun ke dasar laut.
Setelahnya belum dinetahui lagi apa langkah selanjutnya dari pihak Pertamina yang berjanji akan membereskan minyak tersebut.

“Kan pada saat penanganan kemarin hanya menggunakan Dispersan, itu hanya membuat minyaknya turun ke dasar aja. Setelah itu kita belum dapat laporan lagi dari Pertamina mengenai tindak lanjutnya,” ujar Suryanto.

Sejauh ini pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Kementerian Lingkungan Hidup juga belum mencabut status aman bagi perairan Balikpapan. Dan menurut informasi yang dimiliki DLH status ini bisa memakan waktu hingga 10 tahun lamanya.

“Kita dan Kementerian Lingkungan Hidup kan belun mencabut status amannya hingga saat ini. Kalo berdasarkan pengalaman KLH yang diinfokan ke kami bisa saja status ini sampai 10 tahun lamanya,” ucap Suryanto.

Atas kejadian di Teluk Balikpapan yang menghubungkan Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara ini, nakhoda kapal berbendera Panama telah dihulum 10 tahun penjara ditambah uang denda Rp15 miliar rupaih.

Namun, masyarakat masih belum puas karena yang bertanggungjawab dari Pertamina dan telah ditetapkan sebagai tersangka, belum tersentuh hukum. Begitupun dengan santunan untuk korban meninggal belum juga diserahkan.(AND/YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here