Warga Desa Pela yang umumnya anak-anak muda sedang mempraktekan teknik memandu wisata mulai dari penyambutan, pengenalan potensi desa hingga tata cara berkomunikasi yang baik

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Kutai Kartanegara -– Sebuah senyuman tentunya akan menggambarkan bahwa kita sedang senang, sedang gembira dan merupakan pernyataan bahwa kita menyambut dengan bahagia. Setidaknya itulah gambaran yang dibutuhkan manakala ada wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi wisata.

Setidaknya pesan itulah yang harus diingat warga Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang telah resmi menjadikan desa mereka sebagai desa wisata yang diresmikan oleh Bupati Kukar, Eddi Dharmansyah, pada (16/6) lalu.

“Selain senyuman kita juga harus menyuguhkan berbagai keramahan, yang dapat dipelajari seperti harus bagaimana sikap, intonasi suara, hingga cara berpakaian, jika ingin disebut sebagai tuan rumah yang baik ketika menyambut tamu yang datang,” ujar dosen Politeknik Samarinda, Novita Indriani,SS,MA saat memberikan materi tentang “Hospitality, Kualitas Pelayanan dan Komunikasi,” dalam acara Pengembangan Desa Wisata Melalui Pendampingan dalam Rangka Fasilitasi Pelatihan Desa Wisata, yang berlangsung pada, Kamis (13/6).

Para dosen Politeknik Samarinda jurusan Pariwisata yang memberikan materi pelatihan saat berfoto bersama perangkat desa dan kelompok sadar wisata Desa Pela
Desa wisata Pela menjadi desa binaan Politeknik Negeri Samarinda Jurusan Pariwisata sejak awal tahun 2019, sebagai bentuk pengabdian kampus terhadap masyarakat.

Pelatihan ini juga berkolaborasi dengan Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata Hubungan Antar Lembaga Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata.

Selain Novita Indriani, seorang dosen lainnya, M. Fauzan Noor, Mpar, MMHTRL memberikan materi tentang Pengembangan Desa Wisata.

Dalam paparannya, warga diajarkan bagaimana teknik memandu wisatawan dan cara membuat paket wisata sehingga wisatawan mendapatkan kepastian harga. Lanjut Fauzan, warga desa Pela tidak saja diajarkan secara teori tetapi juga bagamana mempraktekkan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan ini.

“Kami tidak saja mengajarkan hard skill tetapi juga soft skill bagaimana cara membuka percakapan saat memandu, cara berbicara, cara mengenalkan desa mereka, gerak tubuh dan lain sebagainya. Jadi konsepnya kami memberdayakan masyarakat desa bagaimana menerima tamu dengan karakter dan kearifan lokal yang mereka miliki,” jelasnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here