Oleh: Bagus Aryo Wicaksono

Poskaltim.com, Jogjakarta – Potensi gempa bumi dahsyat hingga 8,8 magnitudo yang disertai tsunami dengan ketinggian 20 meter memang benar adanya. Kenyataan ini tidak bisa dielakkan karena faktor alam. Namun, bukanlah sebuah ancaman yang harus menghentikan aktivitas masyarakat sekitarnya.

Demikian imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, Ahad (21/7) terkait ramainya pemberitaan gempa bumi dan tsunami di Pulai Jawa ini.

“Kita harus jujur mengakui dan menerima kenyataan bahwa wilayah kita memang rawan gempa dan tsunami,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono.

Dia mengatakan, potensi gempa dan tsunami besar di Laut Selatan Jawa memang benar adanya. Informasi yang viral selama tiga hari ini membuat BMKG harus mengeluarkan penjelasan resmi terkait potensi gempa magnitudo 8,8 dan tsunami 20 meter di wilayah selatan Jawa.

Dia mengatakan, wilayah selatan Jawa berada di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Hal ini menjadi generator gempa kuat sehingga wajar jika wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami.

Daryono mengungkapkan gempa dengan kekuatan di atas magnitudo 7,0 sudah seringkali terjadi di kawasan Samudera Hindia (Selatan Jawa).

Sejarah mencatat daftar gempa besar Samudera Hindia pernah terjadi tahun 1863, 1867, 1871,1896,1903,1923,1937, 1945,1958, 1962, 1967, 1979, 1980,1981,1994 dan 2006.

Sementara tsunami di Selatan Jawa juga pernah terjadi pada tahun 1840, 1859,1921, 1994 dan 2006. Hal ini dikatakan Daryono merupakan bukti adanya bahaya gempa yang disampaikan para ahli.

“Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi, bukan prediksi. Namun kapan terjadinya tidak satu pun yang tahu,” katanya.

Daryono mengingatkan, dalam ketidakpastian waktu terjadinya bencana semua pihak harus melakukan upaya mitigasi struktural maupun nonstruktural.

“Inilah risiko tinggal dan menumpang hidup di pertemuan batas lempeng. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka harus dihadapi,” paparnya.

Dengan mengetahui bahwa wilayah kita dekat di zona megathrust, Daryono mengatakan tidak perlu menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Semua informasi terkait gempa dan tsunami harus direspons dengan langkah nyata dengan memperkuat upaya mitigasi bencana.

“Dengan meminimalkan dampak, sehingga kita tetap dapat hidup dengan selamat, aman dan nyaman meskipun di daerah rawan bencana,” katanya.

Dia mengatakan, peristiwa gempa bumi dan tsunami adalah keniscayaan di Indonesia. Yang paling penting dan harus dibangun adalah mitigasinya, kesiapsiagaannya, kapasitas stakeholder dan masyarakat.

Selain itu, bagaimana menyiapkan infrastruktur menghadapi gempa dan tsunami yang bisa mematikan ribuan ummat manusia dalam sekejap. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here