Kapal Tambangan yang terus ditinggalkan oleh penumpangnya. Seakan mirip kata pepatah hidup segan mati tak mau.

Oleh :Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda -– Akhir tahun 1970-an hingga awal tahun 1980-an adalah masa kejayaan Kapal Tambangan yang menjadi satu-satunya alat transportasi antara Samarinda Kota dengan Samarinda Seberang.

Setelah terbangunnya Jembatan Mahakam Kota di tahun 1987 yang diresmikan oleh Presiden Soeharto, alat transportasi sungai ini mulai mengalami penurunan jumlah penumpang. Hingga kini di Samarinda telah terbangun tiga unit jembatan yang menghubungkan pusat kota dan kecamatan lainnya. Praktis, usaha yang sudah memudar bertambah sepi dari penumpang.

Kapal Tambangan biasa beroperasi di depan Pasar Pagi Samarinda menuju Kecamatan Kampung Baqa dan Samarinda Seberang dengan ongkos per orang penumpang sebesar Rp10.000 sekali jalan. Karena letaknya berhadapan dengan Pasar Pagi, yang merupakan pasar sentral kebutuhan aneka pakaian dan bahan makanan, penumpang kapal Tambangan kini lebih banyak didominasi oleh ibu-ibu yang ingin berbelanja saja.

“Sekarang ini sudah sepi penumpangnya. Tidak seperti beberapa puluh tahun lalu. Kalau sekarang yah paling dapat uang Rp70.000 sampai Rp200.000 saja perhari. Kalau dulu bisa lebih dari itu,” ujar salah seorang pemilik kapal Tambangan, Daeng Afif, Senin (2/9).

Selain karena tersedianya jembatan yang lebih praktis menghubungkan kota dan seberang, keberadaan ojek dan taksi daring, juga disinyalir menjadi turunnya omzet pemilik kapal. Padahal mereka harus membayar ongkos BBM, anak buah kapal hingga motoris jika kapal dilepas kepada orang lain.

Pemilik usaha kapal Tambangan masih bisa bertahan karena jika warga menggunakan kendaraan harus memutar jauh jika ingin berbelanja ke Pasar Pagi. “Tetapi penumpangnya kan tidak banyak. Itu-itu saja. Jadi kapal Tambangan ini istilahnya sudah hidup segan mati tak mau,” keluhnya.

Dirinya berharap campur tangan pemerintah dalam meningkatkan jumlah penumpang kapal Tambangan. Misalnya Afif meminta untuk lebih banyak mengadakan kegiatan pariwisata yang dilaksanakan di sentra-sentra obyek wisata. Apalagi, ujarnya Samarinda Seberang ini memiliki obyek wisata Kampung Tenun dan Masjid tua Sirathal Mustaqim yang memiliki sejarah tinggi.

“Kami berharap Dinas Pariwisata atau instansi lain sering mengadakan kegiatan di Samarinda Seberang. Pengunjungnya harus naik kapal Tambangan. Kendaraan mereka diparkir saja di dermaga Pasar Pagi. Tetapi harus disediakan juga angkutan ke pusat obyek wisatanya,” harapnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here