Setiap kali sukses mendapat satu pengunjung yang menempelkan QR Code, pengemis akan dibayar sebanyak 0,7 hingga 1,5 yuan. Rata-rata dalam seminggu mereka bisa mengumpulkan 4.536 yuan atau Rp9,07 juta..

Oleh: Anisa Tri K / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Jangan heran jika ketika sedang berada di negeri tirai mambu, Cina, kita menemui pengemis di pinggir jalan yang memegang gambar atau foto QR Code (Quick Response Code). Para pengemis inipun menerima sumbangan anda dengan QR Code, sehingga pemberi tak perlu repot mengeluarkan uang kecil.

Para pengemis tersebut, cukup membawa kertas bercetak QR code. Bahkan, ada juga seorang pengemis dengan gangguan mental sengaja dikalungkan QR code oleh keluarganya dalam rangka mencari sumbangan.

Dan bagi siapapun yang ingin memberikan uang pada mereka, cukup menggunakan smartphone untuk scan QR code yang tercetak dan menstransfer sejumlah uang kepada akun pengemis tersebut.

Media lokal menyebutkan, jika para pengemis pintar tersebut tersebar di daerah yang sering dikunjungi turis, seperti kota Jinan dan Beijing.

Menurut media lokal setempat, di Cina, apa yang dilakukan para pengemis itu bukanlah suatu hal yang langka.

Meski demikian, menurut perusahaan pemasaran digital China Channel, QR Code yang digunakan oleh pengemis ternyata tidak hanya ditujukan untuk menerima sumbangan. Menurut firma tersebut, pengemis ini justru ‘dimanfaatkan’ oleh perusahaan penerbit QR Code.

Perusahaan penerbit, akan memanfaatkan data-data pengguna yang memindai QR Code sang pengemis. Nantinya, data tersebut kemudian dijual untuk pemasar dengan harga cukup tinggi untuk dijadikan target pemasangan iklan.

Lewat cara ini, pengemis juga bisa mendapat komisi cukup besar. Setiap kali sukses mendapat satu pengunjung yang menempelkan QR Code, pengemis akan dibayar sebanyak 0,7 hingga 1,5 yuan. Rata-rata dalam seminggu mereka bisa mengumpulkan 4.536 yuan atau Rp9,07 juta.

Lebih besar jika dibanding penghasilan minimum pekerja China. Meskipun masih terlihat janggal, saat ini Cina telah menuju transisi ekonomi bebas tunai. Saat ini, barcode hitam putih itu sudah digunakan dalam banyak hal, dari pembayaran di toko-toko, tip restoran bahkan hadiah uang di pesta pernikahan.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here