Aliran Sungai Karang Mumus yang merupakan anak Sungai Mahakam yang melintas di Kota Samarinda, dipenuhi bangunan yang mempersempit aliran air ketika hujan turun. Penyempitan ini dianggap sebagai penyebab banjir dan tidak lancarnya air mengalir.

Oleh : Muhammad Rizqi

Poskaltim.com, Samarinda — Pemerintah Kota Samarinda terus menganalisa penyebab banjir besar lalu. Hasilnya, akan ada  sebanyak 70 rumah yang diduga berdiri tanpa izin di daerah aliran sungai (DAS) Karang Mumus yang akan dibongkar karena ditengarai menjadi penyumbang banjir yang kerap merendam Samarinda.

Tujuh Puluh rumah tersebut dengan rincian 42 rumah di sekitar Pasar Segiri yang dianggap menjadi biang penyempitan Sungai Karang Mumus (SKM) dan 28 rumah di Jalan PM Noor yang bakal dibongkar karena dibangun di atas anak sungai Talang Sari.

Sekretaris Kota Samarinda Sugeng Chairuddin sudah menandatangani surat pemberitahuan kepada warga yang rumahnya akan dibongkar. Pembongkaran puluhan rumah di aliran DAS itu merupakan kesepakatan dalam rapat koordinasi Pemkot Samarinda bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim pada Senin  pekan lalu.

“Kami sudah sepakat, untuk permasalahan sosial menjadi tanggung jawab kami (Pemkot Samarinda), sedangkan pengerjaan pengerukannya sungai diambil alih oleh Pemprov Kaltim,” ucap Sugeng , kepada awak media, Sabtu (28/6).

Dalam surat itu, warga diminta untuk meninggalkan kawasan itu secara permanen, namun belum dipastikan mulai kapan kawasan itu harus dikosongkan.

Pemkot Samarinda akan kembali berkoordinasi dengan Pemprov Kaltim selaku pihak yang mengerjakan proyek pengerukan SKM dan Badan Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan terkait estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Sebagian besar penanganan banjir di Samarinda diambil alih oleh Pemprov Kaltim dengan menganggarkan dana APBD Perubahan dan Bantuan Keuangan. Tak tanggung-tanggung, untuk tahun ini ada sekitar Rp100 miliar yang disiapkan untuk menyelesaikan sejumlah solusi jangka pendek yang sudah dirumuskan pada rapat tersebut.

Solusi tersebut di antaranya pembangunan kolam retensi di belakang GOR Sempaja. Kolam tersebut dibangun di atas lahan Pemprov Kaltim dan mulai dikerjakan hari ini, (Sabtu/28/6/2019) oleh BWS III Kaltim. Sejumlah alat berat dan pekerja pun sudah nampak di lokasi tersebut. 

Solusi jangka pendek lain adalah dengan kembali memfungsikan anak sungai Talang Sari yang mengalir di sepanjang Jalan DI Pandjaitan dan Jalan Pemuda, yang juga menjadi sub anak sungai Karang Mumus.(RZQ/YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here