Asisten Deputi Perlindungan Anak Berhadapan dengan Hukum dan Stigmatisasi (PABHS) KPPPA Hasan (kiri) bersama Kabid PPPA Noer Adenany, saat Sosialisasi Kebijakan Perlindungan Anak dari Radikalisme dan Tindak Pidana Terorisme di Kaltim.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Anak-anak korban radikalisme dan terorisme hendaknya perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dan bukannya dijauhi ataupun dilabeli dan dicap tidak baik yang dapat membuat anak-anak tersebut trauma berkepanjangan dan bahkan dapat membalas atas dendam yang diperlakukan kepadanya.

“Anak-anak korban radikalisme dan terorisme menanggung stikma yang tidak baik akibat perbuatan orang tua mereka. Penanganan anak-anak ini harusnya dengan perhatian dan kasih sayang dari pemerintah, bukan malah menerima ancaman, stikma negatif baik di sekolah maupun di lingkungan pergaulannya,” ujar Asisten Deputi Perlindungan Anak Berhadapan dengan Hukum dan Stigmatisasi (PABHS) KPPPA Hasan, di Samarinda, Jumat (4/10).

Dijelaskan Hasan, bahwa radikalisme dan terorisme merupakan kejahatan extra ordinary crime yang berdampak besar pada tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Misalnya saja betapa besar kerusakan akibat dari sebuah pemboman, yang korbannya tidak saja orang dewasa tetapi juga anak-anak.

“Saat ini banyak orang Indonesia yang katanya berhijrah tetapi justru terjebak pada organisasi terlarang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Celakanya lagi, kadang orang tua secara sadar mengajarkan sesuatu tentang intoleransi pada kelompok agama lainnya,” tegas Hasan dalam “Sosialisasi Kebijakan Perlindungan Anak dari Radikalisme dan Tindak Pidana Terorisme di Kaltim, bertempat di Hotel Aston Samarinda, Jumat (4/10).

Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim Halda Arsyad, melalui Kabid PPPA Noer Adenany, mengatakan peranan orang tua, terutama seorang ibu juga menjadi penting untuk menangkal radikalisme. Karena posisi seorang ibu dalam rumah tangga pasti sangat dekat dengan anak-anaknya.

“Pada remaja, kemampuan adaptasi dipengaruhi oleh nilai yang didapatnya dari lingkungan sosial dan juga keluarga, karena masa remaja adalah masa transisi dari periode anak menuju dewasa yang penuh gejolak jiwa dan rasa ingin tahu atau rasa penasarannya sangat besar sekali,” ujarnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here