Gubernru Kaltim Isran Noor didampingi oleh Kepala Litbang dan Inovasi Kemen KLHK, Agus Justianto dan Direktur Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional Emma Rachmawati.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Pembangunan infrastruktur calon Ibu Kota Negara RI ke depan diyakinkan Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor tidak akan menabrak rambu—rambu dan kaidah-kaidah lingkungan hidup yang telah lama diprogramkan oleh Kaltim.

Kaltim sejak tahun 2015 telah menandatangani kesepakatan bersama World Bank yang membawahi 29 negara donor untuk program penurunan emisi karbon sebesar 29 persen hingga 40 persen pada tahun 2024 mendatang.

“Kalau selama ini, khusus di kota itu pembangunannya harus mengosongkan Ruang Terbuka Hijau sebesar 20-30 persen. Nantinya dengan pembangunan ibu kota negara baru itu akan dibalik. Jadi pembangunan kawasan infrastruktur,
pembangunan gedung-gedung itu maksimal hanya 40 persen. Artinya ada sekitar 60 persen kawasan terbuka hijaunya.

Ini ditegaskan Isran Noor di hadapan peserta Talkshow daan Launching persiapan Emission Reductions Payment Agreement (ERPA) atau Kesepakatan Pembayaran Pengurangan Emisi untuk kegiatan Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF), yang berlangsung di Ruang Ruhui Rahayu kantor Gubernur Kaltim, Senin (9/9).

Lanjut Isran noor, kawasan-kawasan yang ada di sekitar lokasi pembangunan ibu kota negara akan dilakukan revitalisasi hutan. Dirinya menyebutkan misalnya pada Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain Balikpapan dan Bukit Bangkirai, Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara. Sehingga keberadaan hutan ini tidak dikurangi apalagi akan dihilangkan.

Dirinya mengakui jika adanya kekhawatiran-kekhawatiran dari penggiat lingkungan . Tetapi kekhawatiran itu akan menjadi sebuah kritik dan dorongan akan menjadi modal dan referensi pemerintah dalam membangun ibu kota negara yang hijau seperti yang didambakan.

“Jadi pemindahan ibu kota negara ini diawasi oleh dunia internasional . Urusan hutan ini bukan urusan Kaltim saja tetapi urusan negara Republik Indonesia dan urusan dunia internasional. Nah kita mau nabrak-nabrak, tidak bisa,” tegasnya.

Sehingga ujar Isran, luas lahan yang disiapkan untuk calon ibu kota itu dipersiapkan luas minimal 180.000 hekare bahkan Kaltim mempersiapkan 250 .000 hektare. Diperkirakan untuk pembangunan infrastruktur jalan, pembangunan gedung diperkirakan hanya sekitar 30 persen saja, di luar itu adalah kawasan hutan.

“Jadi orang dapat masuk ke kawasan ibu kota negara dengan asri, terjaga hutan dan udaranya bersih. Itu yang kita dambakan, karena ibu kota negara ini untuk selama-lamanya,” ucapnya (YAN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here