Pemalsuan obat paten dengan cara membungkus ulang obat generik menghasilkan pendapatan Pr400 Juta/bulan. Namun hasil itu dibayar mahal karena tersangka berhasil ditangkap polisi.

Oleh: Suandri Ansah

Poskaltim.com, Jakarta – Seorangtersangka pemalsu obat berinisial AF AP (52) ditangkap pada Senin (22/7) di Perumahan Royal Familiy Blok D-15 Kota Semarang, dengan modus mengemas ulang obat-obatan keras generik menjadi obat-obatan paten non generik yang memiliki harga mahal.

Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dit Tipidter) Bareskrim Polri menangkap tersangka yang merupakan Direktur PT JKI (Jasa Karunia Investindo) yang merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang terdaftar di BPOM Republik Indonesia.

Perusahaan yang dikelola tersangka terletak di Jakarta Timur dan memiliki cabang di Tangerang. Dalam pratik usahanya, tersangka juga melakukan pemalsuan terhadap tanggal kedaluwarsa, kemasan obat, dan kapsul obat.

“Tersangka menggunakan perusahaannya sebagai Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau menyalurkan produk obat-obatan ke apotek2, seolah-olah produk obatnya adalah obat paten,” ujar Direktur Tipidter Bareskrim Polri, Brigjen Pol M Fadil Imran di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin.

Fadil mengatakan, tersangka melakukan pengumpulan bahan baku obat-obatan (generik, obat-obatan di duga palsu dan obat-obatan di duga kedaluwarsa) dan bahan baku kemasan untuk di kemas ulang. Bahan baku obat diperoleh dari perusahaan sendiri PT JKI, apotek-apotek di wilayah Semarang, dan salah satu toko di Pancoran.

Sementara, bahan baku kemasan diperoleh dari Surabaya. Bahan baku obat kemudian dikemas ulang sendiri menjadi obat seolah-olah merk paten, mencetak dan menentukan waktu kedaluwarsa sendiri, mengubah obat-obatan dari subsidi pemerintah (JKN/BPJS) menjadi seolah-olah non subsidi.

Tersangka mempekerjakan enam rang yang bertugas membeli bahan baku kemudian mengeluarkan isi kapsul, lalu dikemas ulang dengan memasukkan ke dalam kapsul baru.

Tersangka juga mempersiapkan kemasan sekunder obat seperti alumunium foil, cetakan huruf obat, dus obat serta brosur tata cara pemakaian. Terakhir tersangka mencap tanggal kedaluwarsa, menutup dengan sticker dan hologram palsu agar nampak asli.

“Setelah obat tersebut selesai, tersangka memasarkannya secara langsung atas nama tersangka dan melalui PT. JKI di Jakarta. Omset tersangka dalam melakukan perbuatan sebesar Rp 400 juta per bulan,” jelas Fadil.
PasaI-pasal yang disangkakan adalah pasal 196 Jo Pasal 98 (ayat 2 dan 3) dan/atau pasal 197 Jo pasal 106 (ayat 1) UU RI No 36/2009 tentang Kesehatan dan/atau Pasal 62 (ayat 1) Jo Pasal 8 (ayat 1) huruf a dan/atau huruf d UU RI No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here