Pelabuhan Samarinda dilihat dari udara. Walaupun aktivitas bongkar muat barang sudah dipindahkan ke Pelabuhan Peti kemas Palaran dan aktivitas penumpang kapal laut tidak terlalu padat, membuat kawasan Pelabuhan Samarinda berpotensi ditata dan dijadikan beberapa pusat kuliner yang bersih dan aman.(foto;Ist)

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Kawasan Pelabuhan Samarinda yang terlihat kumuh dan terkesan semrawut, rencananya akan disulap menjadi pusat kuliner yang bersih, tertata rapi dan tentunya akan jauh dari kesan tidak aman.

Hal ini dikatakan oleh General Manager Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Samarinda, Suhadi Hamid Aly, yang baru saja menjabat di Samarinda.

Dirinya pun sudah memikirkan untuk membuat pusat kuliner saat pertama menjejakkan kaki di Samarinda. Menurutnya, penataan pelabuhan Samarinda ini akan berhasil karena pelabuhan orang sudah mulai terpisah dengan pelabuhan barang. Walaupun masih ada beberapa aktivitas bongkar muat barang, tetapi secara bertahap akan dihilangkan karena sudah ada Pelabuhan Peti Kemas di Palaran.

General Manager Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Samarinda, Suhadi Hamid Aly
“Saya ada wacana untuk membuat pusat kuliner juga di Pelabuhan Samarinda ini. Kalau kita lihat sekarang kan warungnya kumuh, kurang enak juga dipandang, kita mau ubah pola pikir orang tentang pelabuhan. Nantinya Pelabuhan Samarinda, harus keren pokoknya,” ujar Suhadi, kepada Poskaltim.com, Kamis ( 25/7).

Untuk konsep di awal, Suhadi akan memakai dana yang ada untuk semester tahun 2019 ini. Namun nantinya akan ada dana usulan di tahun 2020 untuk pembenahan kawasan pelabuhan. Target dana yang dikucurkan sekitar Rp20 miliar yang diperuntukan untuk pelabuhan dan pembuatan gerai-gerai untuk para pedagang.

Suhadi juga ingin mengubah stigma negatif tentang pelabuhan yang selama ini dikenal sebagai sarang bagi preman. Menurut Suhadi, warga disekitar pelabuhan sebenarnya hanya kurang sosialisasi dan dirinya menargetkan stigma itu akan hilang nantinya.

“Saya juga berpikir bagaimana mengubah stigma negatif dari pelabuhan ini. Memang pekerja disini merupakan pekerja kasar. Namun itu semua memang gaya mereka dan sudah menjadi keseharian. Namun jika nanti konsep kita ubah, otomatis kesan itu pasti akan hilang dengan sendirinya” ujarnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here