Oleh: Muhajir / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Istana Presiden sudah terbangun di Papua. Presiden Jokowi dipersilahkan untuk berkantor di Papua dan mengurus ekonomiIndonesia dari Papua saja.

Demikian dikatakan oleh tokoh masyarakat Papua, Christ Wamea, yang menyebut Presiden Joko Widodo alias Jokowi tak perlu susah payah mengeluarkan dana, apalagi tambah utang untuk membangun Istana Kepresidenan di Papua.

“Gedung negara sudah dibangun oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe, yang gagah sekali. Tinggal bapak presiden datang berkantor saja di Papua,” kata dia melalui akun resminya disertai gambar yang dimaksud, Kamis (12/9).

Christ mengatakan, Jokowi tak perlu lagi sibuk membangun Istana, yang pasti membutuhkan dana cukup besar. Dia juga khawatir pendanaanya akan berasal dari utang.

“Biar kosentrasi urus ekonomi di Papua saja, karena Papua itu provinsi termiskin di Indonesia,” ujarnya.
Wacana Jokowi membangun Istana di Papua ini mencuat saat ia menemui tokoh Papua di Istana Negara, Selasa (10/9). Dia mengatakan pembangunan Istana Kepresidenan di Papua terbilang tidak mudah.

Selain anggaran, pembangunannya juga terkendala soal lahan. Kendati demikian, Jokowi menargetkan tahun 2020 pembangun itu akan dimulai.

Namun, Christ membeberkan bahwa sebenarnya Gubernur Lukas Enembe mengaku tidak tahu-menahu tentang pertemuan tersebut. “Saya tidak tahu dengan pertemuan itu, dalam kapasitas meraka datang bertemu juga saya tidak tahu” kata Lukas Enembe.

Bahkan, Kepala Suku Besar Arfak yang juga Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah merekomendasikan siapapun untuk mengikuti pertemuan bersama Presiden Jokowi. Apalagi membicarakan tentang persoalan kerusuhan di tanah Papua.

“Kalau Gubernur Papua dan Papua Barat saja tidak tahu dan tidak merekomendasikan 61 org papua yang mengatasnakan tokoh pmPapua untuk bertemu dgdengan presiden, bagaimana kita mau mengakui pertemuan itu mewakili aspirasi OAP (orang asli Papua). Jangan adu domba kami, yang kami inginkan adalah kedamaian yang abadi di Tanah Papua,” kata dia.

Dia mengatakan, ribuan orang asli Papua turun ke jalan beberapa waktu lalu karena ada penghinaan terhadap harga diri dan identitas OAP, bukan mau minta pemekaran. Apalagi membangun palapa ring maupun bangun istana.
“Katanya sudah 12 kali datang ke Papua masa masih belum paham juga tentang Papua. Jadi pemimpin itu harus peka,” katanya menegaskan. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here