Lima orang emak-emak harus pasrah masuk penjara karena memalsukan identitas seseorang untuk meminjam uang ratusan juta.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Gara-gara memalsukan identitas orang lain untuk meminjam uang sebesar Rp100 juta kepada seseorang, lima orang emak-emak, yakni Ida Rostika, Siti Nurhidayati, Ichu alias Herlina, Jamilah dan Hj Indah Budiani, harus berurusan dengan polisi dan harus mendekam di penjara.

Kelimanya kemudian dijerat melakukan perbuatan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP junto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ridhayani Natsir SH dan Samsul SH dari Kejari Samarinda.

Pada persidangan yang digelar Senin (26/8) sore, di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Samarinda yang pimpin Ir Abdurrahman Karim SH sebagai Ketua didampingi Hakim Anggota Maskur SH dan Achmad Rasid Purba SH MHum, para terdakwa mengakui telah meminjam uang berbunga kepada saksi korban Curchill Pangabean sebesar Rp100 juta dengan jaminan Sertifikat Tanah Hak Milik Nomor 672 (rumah) atas nama Asnawi Djamal.

Dalam perkara ini saksi korban mengaku mengalami kerugian Rp100 Juta, meskipun beberapa dari para terdakwa diakui saksi telah menyerahkan harta bendanya sebagai pembayaran atas kerugian yang dialami.

Kasus ini bermula ketika Tri Susanti menelpon Ichu dan mengatakan minta tolong dicarikan pinjaman uang senilai Rp100 juta dengan jaminan sertifikat rumah.

Ichu pun merespon, kemudian Tri Susanti menyerahkan sertifikat dan dokumen foto kopi KTP dan Kartu Keluarga (KK) kepada Ichu sebagai syarat peminjaman uang. Usai mendapatkan sertifikat dan dokumen pendukungnya, Ichu lalu bertemu dengan Siti Nurhidayati yang sebelumnya dikenalkan oleh Jamilah.

Kemudian untuk meyakinkan saksi muncullah ide memproses pinjaman tersebut dengan memalsukan identitas Tri Susanti dan suaminya Asnawi Djamal sesuai yang tertera dalam sertifikat itu.

Singkat cerita, atas saran notaris, saksi korban disarankan mengecek sertifikat yang dijaminkan. Karena sertifikat tersebut benar dan terdaftar di Badan Pertanahan, maka saksi korban memberikan pinjaman Rp100 juta dengan pengembalian beserta bunga sebesar Rp130 juta.

Setelah uang didapatkan, kelimanya membagi-bagikan uang untuk keperluan masing-masing. Setelah tiba waktu pembayaran, semuanya molor dalam pembayaran. Setelah beberapa kali tertunda akhirnya saksi korban Churchill Pangabean mendatangi rumah Tri Susanti.

Betapa terkejutnya saksi korban karena Tri Susanti yang dimaksud bukanlah peminjam uang yang telah diberikan. Terlebih dengan Tri Susanti, sudah tidak mendapatkan uang pinjaman, sertifikat hak milik rumahnya pun telah berpindah tangan.

Terungkap pula dalam persidangan, Rp65 Juta uang saksi korban telah dikembalikan bersama lima unit motor sebagai jaminan pembayaran uang pinjaman.

“Dari pinjaman 100 juta, harus kembali 130 juta yang mulia,” kata saksi yang terkesan agak malu-malu menjawab pertanyaan Anggota Majelis Hakim.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here