Presiden Ke-2 Republik Indonesia, HM Soeharto.

Oleh: Herry M Joesoef

Sejarah akan lebih shahih jika dituturkan oleh pelakunya. Inilah penuturan Pak Harto tentang peristiwa Seragan Umum 1 Maret 1949 yang fenomenal itu. Penuturan ini dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982. Diturunkan dalam 3 bagian –Redaksi.

Di bulan November 1948, sementara rundingan Indonesia-Belanda terus berjalan, dan melelahkan rasanya buat saya, berita sedih datang dengan tiba-tiba. Jenderal Urip Sumohardjo meninggal dengan mendadak. Seorang pemimpin yang telah mengabdikan dirinya pada Angkatan Perang kita telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Jenazahnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki.

Sementara itu rundingan Indonesia-Belanda terus berjalan. Menteri Luar Negeri Belanda D.U. Stiker sendiri datang di Yogya dan berunding dengan Bung Hatta di Kaliurang.

Stikker tetep menghendaki bahwa “Wakil Tinggi Kerajaan Belanda di dalam Negeri Federal Sementara selama masa peralihan harus mempunyai kekuasaan penuh.” Tetapi Bung Hatta yang tentunya didukung oleh Bung Karno dan Jenderal Sudirman, dengan tegas menolak campur tangan Belanda dalam urusan interen Republik.

Belanda terus menuduh pihak Indonesia melanggar gencatan senjata. Pihak kita menuduh justru mereka yang terus-menerus melanggar kesepakatan. Lalu perutusan Belanda itu kembali ke negerinya setelah perundingan dengan pihak RI buntu.

Tanggal 11 Desember 1948 dalam suasana yang tambah menghangat, delegasi Belanda mengirimkan nota kepada Komisi Tiga Negara yang menyatakan bahwa Belanda tidak mungkin berunding dengan RI. Belanda akan membentuk pemerintahan interim, katanya.

Kemudian balas-membalas surat-surat diplomasi terjadi.

Sementara itu Wakil RI di PBB L.N Palar mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menempatkan lagi soal perselisihan Indonesia-Belanda dalam agenda.
Suasana tegang itu ternyata meletup.

Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda secara mendadak menyerang Yogyakarta melewati Maguwo yang akhirnya bisa masuk kota. Itulah Agresi Belanda ke-2.

Perlawanan dari pihak kita waktu itu kecil. Memang sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan semula, sebelum itu pasukan-pasukan TNI telah mengundurkan diri ke luar kota. Komando kita yang ada di kota Yogya ialah Komando Militer Kota, KMK, yang langsung berada di bawah MBAD. Komandannya Letkol Latief Hendraningrat yang pada tanggal 17 Agustus 1945 mengerek bendera Merah Putih di Gedung Proklamasi, di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Maka dengan sendirinya saya tidak bisa mencampuri apa yang dilakukan di kota itu. Saya sebagai Komandan Brigade banyak mempersiapkan pertahanan di luar kota, minus Kota Yogya.

Yang ada di kota waktu itu hanya satu kompi, pengawal Kompi Brigade dan pengawal Presiden. Maka praktis waktu penghambatan terhadap serangan Belanda dari Maguwo terus ke kota itu hanya dilakukan oleh satu kompi saja, yakni kompi pengawal pribadi saya.

Saya menyadari tugas yang berat itu dalam keadaan tanpa pasukan. Saya juga masih berusaha menghambat pasukan musuh yang bergerak. Maksud saya memberi kesempatan kepada Pemerintah di kota, agar supaya mengungsi dan melakukan bumi hangus. Tapi ternyata yang mau mengungsi hanya Pak Dirman dalam keadaan sakit, setelah satu paru-parunya dibedah belum lama berselang. Bung Karno dan Bung Hatta memutuskan untuk tinggal di tempat. Nyatanya mereka ditawan, dikirimkan ke Prapat, Sumatra. Yang sempat dibumi-hanguskan hanya gedung KP-5, yakni Gedung Korps Penyelidik yang dipimpin oleh Kolonel Lubis, letaknya di dekat jembatan Kewek, dan markas Brigade saya.

Pasukan Pak Dirman sudah terus mengawal Pak Dirman, sedang CPM berceceran karena kecuali mengawal Pak Dirman juga mengawal Presiden dan Wakil Presiden. Ada pasukan Militer Akademi, tetapi mereka masih kader-kader sehingga tidak bisa digunakan.

Saya masih bertahan hingga pukul dua atau tiga siang waktu itu. Kami masih sempat tembak menembak dengan tentara Belanda di selatan Sentul. Sewaktu tembak-menembak itu saya sungguh prihatin, bagaimana kecewanya rakyat Ibukota Yogyakarta menyaksikan Belanda dengan mudah masuk ke tengah kota. Mereka tentu tidak akan tahu bahwa saya tidak punya pasukan. Pasukan saya ada di Purworejo, di daerah barat.

Otak saya seakan-akan berputar, cari akal, bagaimana caranya untuk mengembalikan kepercayaan rakyat Jogyakarta kepada TNI. Bagaimana meyakinkan mereka, bahwa TNI masih mampu mengadkaan perlawanan. Satu-satunya jalan adalah melakukan serangan balasan secepat mungkin ke ibukota. Dalam kesempatan itu sayapun menyadari, bahwa Yogya adalah Ibukota Republik. Apapun yang terjadi di Ibukota sangat besar pengaruhnya terhadap perlawanan di daerah lainnya. Begitu pula terhadap dunia luar.

Di tengah suasana tembak-menembak dengan Belanda di kampung Nyutran pinggiran kota sebelah tenggara, secara kebetulan Kapten Widodo menghampiri saya. Saya tahu bahwa Widodo itu Komandan Kompi dari Batalyon Sardjono yang ada di Purworejo. Tetapi tidak saya lewatkan kesempatan itu. Saya perintahkan, “Kamu segera lapor kepada Komandan Batalyon bahwa musuh sudah ada di Yogya. Sekarang, tarik seluruh batalyon ke Yogya. Segera susun sektor di Selatan Yogya. Dan tunggu perintah saya sambil mempersiapkan untuk melaksanakan serangan umum ke Kota.” Saya tutup pembicaraan itu dengan Komando ulangan itu: “Tunggu perintah saya”.

Setelah Widodo berangkat, saya menuju Ngotho, tempat Pos Komando Pertama yang telah ditentukan sebelumnya, memberi petunjuk pada staf untuk memindahkan Posko ke sebelah timur Kali Opak di desa Segoroyoso. Saya memutuskan, segera memutuskan konsolidasi, mendatangi seluruh wilayah Yogya. Dengan kelompok kecil saya terus berkeliling daerah.

Malam itu saya bergerak ke barat, menyusun sektor di daerah itu. Yang ada disana waktu itu Mayor Ventje Sumual. Maka saya tunjuk dia menjadi pimpinan di sektor barat dengan tugas menghimpun, mengkonsolidasi semua pasukan yang bersenjata di daerahnya. Dengan kekuatan yang ada di sektor Barat, segera dilakukan pengintaian untuk mengenal medan, melakukan serangan gerilya pada musuh, penghadangan terhadap konvoi musuh dan mempersiapkan diri untuk melakukan serangan umum ke kota dari arah barat atas perintah saya.

“Tunggu perintah saya”, saya tegaskan kepada Sumual seperti sudah saya tegaskan kepada widodo.
Maka kemudian saya terus menuju ke utara. Disana ada pasukan MA (Militer akademi). Komandannya seorang kolonel, Kol. Djatikusumo. Karena pangkatnya lebih tinggi daripada pangkat saya, maka saya menunjuk Kepala Stafnya saja, Mayor Kasno, untuk memimpin sektor utara, dengan tugas yang sama. Semua pasukan yang lari menyingkir ke utara harus dia himpun.

Dari sektor utara juga harus diadakan serangan kecil-kecilan, sambil mengenal medan di sebelah utara dan mempersiapkan diri untuk serangan umum ke ibukota.

Lalu saya menuju ke daerah sebelah timur. Disana saya tunjuk Mayor Soedjono, dari batalyon saya sendiri, untuk memimpin di sektor itu dengan tugas yang serupa. Maka kemudian pasukan yang ada di sebelah timur itu dihimpun dan lantas mengadakan serangan-serangan gerilya terhadap kedudukan musuh sambil menunggu perintah saya.
Lalu saya kembali ke selatan. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here