Warga Kelurahan Mentawir telah sadar akan keberadaan hutan mangrove di desa mereka yang dapat mendatangkan manfaat dan tambahan penghasilan tanpa harus merusak hutan.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Kawasan Hutan Mangrove Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, terus dibangun dan dijaga serta dikembangkan menjadi kawasan wisata oleh warganya.

Selain menjadi salah satu dari 150 Kampung Pro Iklim Plus di Kaltim, warga telah merasakan banyak manfaat dari keberadaan hutan mangrove ini. Warga telah memetik banyak manfaat dengan membuat sirup, membuat dodol, tepung, hingga kosmetik yang berbahan dasar buah mangrove.

Desa yang termasuk dalam wilayah calon ibu kota negara ini sudah mendapatkan perhatian dunia internasional. Apalagi kemasan sirup mangrove warga Mentawir pernah mendapat juara ketiga dalam suatu kegiatan internasional di Bali sebagai pemanfaatan mangrove terbaik.

Ketua Pokok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mentawir, La Male kepada Poskaltim.com menjelaskan setelah dirinya dilatih oleh Kementerian Pariwisata di Semarang untuk mengelola wisata, dirinya melihat selama ini ada potensi besar yang belum dimanfaatkan dengan baik, yaitu ekowisata Hutan Mangrove.

“Alhamdulillah, dengan adanya berbagai inovasi dari kami dalam mengelola sektor wisata ini, penghasilan warga juga semakin meningkat. Bahkan, tidak hanya sektor wisatanya saja yang kami kembangkan, tapi juga seluruh pemanfaatan alam dengan tidak merusak,” ujarnya, Minggu (3/11).

Karena warga telah menerima manfaat dari alam itulah, seluruh masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Sehingga, kesadaran untuk menjaga ala mini tumbuh di setiap diri warga.

Bahkan tidak hanya tumbuhan, aneka fauna yang ada di sekitar kawasan hutan mangrove pun begitu beragam dan unik. Mulai dari Lumba-Lumba air asin, Dugong, hingga kepiting bakau. Di atas dahan pohon mangrove, hidup Bekantan atau kera hidung panjang kerap muncul mewarnai rimbunnya daun hijau pohon bakau ini saat mencari makan.

“Kami akan terus berupaya meningkatkan objek wisata dan kenyamanan wisatawan disini. Rencananya kami akan bangun jalan lebih panjang, kalau sekarang sudah ada sepanjang 500 meter. Nantinya, mungkin bisa dua kilometer. Selain itu juga akan ada menara pantauan, agar wisatawan bisa melihat seluruh kondisi hutan mangrove di kawasan ini,” jelasnya.

Kawasan Hutan Mangrove Mentawir ini merupakan konsesi milik PT Inhutani Balikpapan, dengan luasan sebesar 500 hektare dari 7.000 hektare luas kawasan mangrove yang juga masih dalam pengelolaan PT Inhutani Balikpapan.

“Kami berharap, apa yang kami jaga dan kerjakan saat ini, turut ada perhatian dari pemerintah daerah. Kami masih butuh dukungan dan pembinaan agar apa yang kami jaga saat ini terus memberi manfaat sehingga warga tidak merusak hutan,” harapnya.

Sementara itu, Konsultan Development Social FCPF Carbon Fund, Ahmad Wijaya, yang dihubungi secara terpisah mengatakan bahwa mangrove merupakan sektor penyumbang stok karbon terbesar kedua setelah lahan gambut. Sehingga hal ini menjadi target dari perlindungan hutan Forest Carbon Partnership Fund (FCPF) untuk tetap menjaga hutan mangrove ini.

“Mangrove adalah nomor dua dalam menyumbang oksigen. Kami ada 10 titik yang kami pantau untuk menghitung stok karbon yang ada di hutan mangrove Mentawir ini. Kalau yang dipantu ada sekitar 2.000 hektare saat ini,” ujarnya. (YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here