Oleh: Icheiko Ramadhanty / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Dunia internasional, terutama di kalangan peneliti, keberadaan komodo di Indonesia menjadi sebuah pertanyaan besar, karena hanya ada satu di dunia.

Komodo atau Varanus komodoensis, adalah spesies kadal besar dan hewan endemik Indonesia. Satwa asli Indonesia ini hanya ada di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang, dan Pulau Padar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Komodo adalah spesies kadal terbesar di dunia yang panjangnya bisa melebihi 3 meter. Yang membuat hewan ini istimewa, dia bisa mengendus mangsanya dari jarak 9 km. Komodo tergolong predator buas yang bisa menyerang rusa dan manusia.

Menurut sebuah studi yang terbit di Prosiding Royal Society B, komodo bukannya tak bisa menjelajah daerah lain atau menguasai dunia, tapi mereka memang tidak ingin melakukannya.

Komodo sebetulnya tipe hewan yang tak mau ambil risiko. Sekelompok ahli yang mengamati komodo di empat pulau selama satu dekade mengungkap bahwa komodo tidak pernah meninggalkan tanah kelahirannya sepanjang hidup.

Dikutip dari IFLscience, komodo sudah merasa lebih aman dan nyaman berada di zona dekat rumah, mereka tak menginginkan apapun lagi. Selain itu, di habitat aslinya di NTT, mereka bisa mengetahui secara persis di mana menemukan mangsa.

Selain menolak ambil pusing soal hidup berpindah-pindah, peneliti juga menemukan, karnivora dengan kaki kuat dan kemampuan bergerak cepat hingga 20 km per jam atau sekitar 13 mph ini lebih memilih menciptakan stabilitas dengan tak banyak bergerak jauh.

“Begitu mereka menjajah sebuah pulau, terlepas dari kemampuan luar biasa penyebaran jarak jauh yang dimilikinya, mereka memutuskan itu sudah cukup (tidak menjelajah lagi),’” ujar Tim Jessop, profesor ekologi di Deakins University di Australia yang memimpin penelitian, seperti dikutip New York Times.

Para peneliti pernah melakukan dua spesimen pengujian. Pertama, para peneliti memindahkan tujuh komodo dari wilayah asal mereka ke tempat yang jauh, tetapi masih di pulau yang sama. Beberapa diangkut sekitar 22 km jauhnya. Kedua, komodo lain dipindahkan ke pulau berbeda yang meski berjarak dekat cuma 1.6 km, tapi membuat mereka harus menyeberang lautan untuk kembali ke tempat asal.

Dalam waktu empat bulan, semua komodo yang dipindahkan ke darat walaupun sangat jauh ternyata bisa kembali lagi ke rumahnya. Ini menunjukkan bahwa komodo mampu melakukan perjalanan jauh melewati medan berat. Ternyata ada seekor komodo yang dipindah ke pulau lain yang mengalami masalah.

Ia tidak bisa mencari pasangan dari komodo-komodo di pulau baru dan kesulitan menemukan mangsa. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa sebetulnya komodo punya kemampuan berenang cukup jauh, tetapi usaha pulang dianggap tidak sepadan dengan risiko yang diambil.

Peneliti juga menemukan pada tes DNA komodo, yang menunjukkan adanya tanda-tanda perkawinan sedarah di populasi komodo, dan rentan terhadap kekurangan makanan.

Padahal, menurut peneliti, berdiam diri dan enggan pergi juga tidak menguntungkan bagi komodo. Data mikrosatelit yang memantau DNA komodo menunjukkan tanda-tanda perkawinan sedarah. Boleh jadi, itu karena komodo setempat menolak kawin dengan pendatang baru.

Kemudian, mereka justru lebih berisiko kekurangan pangan karena persaingan antar kelompok. Belum lagi faktor bencana alam dan aktivitas manusia semisal perburuan juga mengancam populasi.
“Mereka tetap tidak peduli seberapa buruknya. Ini sedikit membingungkan,” ujar Jessop.

“Komodo adalah hewan unik. Komodo muda memiliki kebiasaan memanjat pohon untuk menghindari kanibalisme dari komodo yang lebih tua. Mereka mungkin terlihat seperti predator tingkat atas yang kejam, tetapi tujuan mereka menjadi makhluk pulau ternyata lebih sederhana dari yang kita kira,” tambahnya. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here