Oleh : Arif S

Anak berusia di atas lima tahun, berdasarkan teori, telah memiliki kekebalan tubuh yang baik. Artinya, kekebalan tubuhnya sudah relatif stabil. Hal ini membuat daya tahan tubuhnya relatif baik dan mapan menahan gempuran virus.

Sebaran virus corona sangat cepat dan meluas. Hingga saat ini tak kurang dari 180 negara telah terpapar virus yang awalnya berasal dari negeri Cina tersebut.

Mereka yang terkena infeksi virus dengan nama lain Covid-19 itu tak pilih-pilih bulu. Semua kalangan bisa terpapar. Mulai dari yang kaya, yang sedang-sedang saja, atau yang miskin sekalipun bisa terkena virus flu ganas tersebut. Tidak peduli laki-laki atau perempuan.

Sempat ada yang bertanya, mengapa tidak ada kabar orang gila yang disambar virus corona.

Jawabannya sebenarnya relatif sederhana. Orang gila terbiasa hidup menggelandang. Mereka hampir selalu menyendiri. Nyaris tidak ada komunitas orang gila.

Orang normal pun akan enggan untuk mendekatinya. Dengan keadaan seperti itu, tentu akan sangat jarang orang gila (mungkin juga gelandangan) berbaur dengan orang normal lain yang membawa virus corona.

Namun, ada golongan insan yang relatif sangat jarang terkena infeksi virus corona. Kelompok ini adalah golongan anak-anak atau bayi. Rasanya hampir tidak pernah ada laporan tentang anak-anak/bayi yang terinfeksi corona. Kalaupun ada, statistiknya teramat kecil dibandingkan korban dari kalangan manusia dewasa.

Sebagaimana diberitakan National Geographic, sangat sedikit bayi dan anak-anak yang tertular dan kemudian meninggal karena virus corona. Studi di Wuhan, Hubei, Cina, memperlihatkan fakta itu.

Di Wuhan, kota menjadi awal merebaknya virus tersebut, dilakukan riset pada 44.000 kasus penderita infeksi corona. Dari jumlah penderita infeksi itu, hanya 1% pasien dari kalangan anak-anak dengan usia 10-19 tahun. Nah dari angka 1% itu (sekitar 440 anak), hanya ditemukan satu kasus kematian anak-anak.

“Kami masih terus berusaha memahami. Mengapa kasus Covid-19 sangat rendah menyerang pada mereka yanag berusia di bawah 20 tahun,” kata ahli epidemiologi Cecile Viboud dari Pusat Internasional Kabut Kesehatan Amerika Serikat.

Ada beberapa pandangan yang mendasari minimnya anak-anak terkena virus corona. Menurut Sharon Nachman, kepala bagian penyakit menular anak di Rumah Sakit Stony Brook Children’s New York, anak-anak sudah sejak awal kehidupannya sudah berpapasan dengan aneka penyakit. Hal itu akan membuat mereka lebih tahan (punya imunitas) dari infeksi virus corona.

Akan tetapi, para ahli tetap mengingatkan agar tidak meremehkan hal itu. Lebih tahan terhadap virus corona bukan berarti tidak bisa terinfeksi. Tetap saja, anak-anak akan bisa terkena serangan virus corona bila tidak ada kehati-hatian.

Dalam padangan dokter spesialis anak Soerjatmono di Kediri, Jawa Timur, pada organ tubuh anak-anak masih belum bisa membuat reseptor. “Bahasa lainnya, belum ada reseptor dalam tubuh anak-anak untuk virus corona,” tutur dr Soerjatmono SpA yang alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu.

Jadi ketika virus masuk kedalam tubuh anak yang belum memiliki reseptor, urainya, virus tidak bisa berkembang. “Ada pula ahli yang mengatakan bahwa respon untuk membuat antibodi pada anak itu lebih cepat,” paparnya.

Kalau virus masuk tubuh dan tidak ada reseptor, urainya, maka virus tidak bisa mengganggu tubuh yang bersangkutan, tidak bisa menetap dalam tubuh dan mungkin mati. Kalau virus tidak mati/menetap pada orang itu dan tidak menimbulkan gejala, kata Soerjatmono, maka orang atau anak tersebut bisa menjadi carrier dan berperan sebagai penularan pada orang lain.

Dalam pelbagai risalah kesehatan disebutkan, virus corona akan menyerang setiap manusia yang daya tahan tubuhnya sedang lemah. Sementara itu, secara umum anak-anak akan mendapat asupan gizi yang mencukupi dari orang tuanya. Dengan kenyataan ini, kondisi tubuh anak-anak akan lebih baik sehingga daya tahan tubuhnya pun lebih kuat.

Apalagi bila pola asuh dan asupan gizinya baik, maka kekuatan tubuh anak itu dari gangguan corona akan lebih kokoh. Virus pun tak akan memilih untuk bertengger pada orang yang daya tahan tubuhnya kuat.

Anak berusia di atas lima tahun, berdasarkan teori, telah memiliki kekebalan tubuh yang baik. Artinya, kekebalan tubuhnya sudah relatif stabil. Hal ini membuat daya tahan tubuhnya relatif baik dan mapan menahan gempuran virus.

Lagi pula, anak usia lima hingga 15 tahun memiliki jam tidur yang stabil dan mencukupi. Waktu tidur yang memadai juga membuat kondisi tubuh lebih mantap. Daya tahan tubuh pun ikut terjaga lebih baik.

Tentu itu sangat berbeda dengan para orang lanjut usia (lansia). Siklus tidur lansia sudah tidak bisa lagi memenuhi standar. Karena faktor fungsi organ tubuh yang mengalami penurunan, siklus tidur pun secara otomatis tak bisa berjalan dengan normal. Jam tidur menjadi lebih terbatas. Dampaknya, ketahanan fisik sudah barang tentu mengalami penurunan secara alami.

Ini bisa menjadi jawaban, mengapa rata-rata orang tua atau lansia yang terinfeksi virus corona tidak memiliki daya tahan yang cukup. Gizi memadai sekalipun tidak bisa sepenuhnya menggantikan bagaia organ tubuh yang fugsinya telah mengalami penurunan. Hal yang bisa dilakukan hanya sekadar menahan agar penurunan fungsi organ tubuh itu menjadi lebih lambat.

Walau anak-anak lebih memiliki daya tahan, dalam kondisi seperti sekarang ini, para orang tua diharapkan tidak lagi dibiasakan menciumi anak-anaknya yang masih kecil atau balita. Tujuannya, sudah barang tentu untuk menghindari kemungkinan tertularnya virus corona pada anak.

Jelas tak hanya itu saja. Mengelus-ngelus pipi bayi pun untuk masa sekarang ini akan lebih baik jika tidak dilakukan. Cukup sayangi anak Anda dengan tatapan dan pandangan sepenuh hati dalam jarak yang memadai. (https://indonesiainside.id/narasi/2020/04/05/mengapa-anak-anak-lebih-tahan-dari-infeksi-virus-corona)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here