Oleh: Arif S / Yuliawan A

Poskaltim,com , Jakarta – Hiruk-pikuk dan kontroversi soal isi ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) sudah berlangsung dua pekan ini. Tak hanya di jagat maya, di dunia nyata pun perbincangan itu sudah sedemikian meluas. Bukan sekadar melibatkan kalangan masyarakat bawah, kaum menengah dan atas pun ikut nimbrung. Bahkan kemudian Wakil Presiden Jusuf Kalla sampai berkomentar soal ini hingga kemudian keluar imbauan untuk para agamawan agar tidak saling kecam dan menghina pada agama lain dalam berdakwah.

Awal mula ramainya kontroversi itu adalah tersebarnya video ceramah UAS di media sosial. Isi ceramah itu antara lain soal penjelasan UAS, bahwa di setiap patung itu ada jin kafir, termasuk juga di dalam patung Yesus. Seketika gegerlah dunia maya saat video itu menyebar.

Banyak yang berpendapat agar UAS yang berasal Riau itu juga dituntut dan dijatuhi hukuman setimpal atas dugaan penghinaan tersebut. Walau faktanya, ada pendeta yang malah membenarkan UAS. Karena, kata pendeta tersebut, yang benar adalah salib tanpa patung Yesus. Kalau ada patung Yesus, maka akan bersemayam iblis di dalamnya. Soal hal ini, saya tak mau ikut-ikutan berkomentar.

“Jadi, jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak-ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat Almaidah 51 macem-macem gitu lho,” ungkap Ahok. Pada dasarnya surat Almaidah ayat 51 memang perintah agar umat Islam memilih pemimpin yang seagama.

Apakah memang pernyataan Ahok itu setara dengan uraian UAS saat menjelaskan adanya jin kafir di dalam salib yang ada patung Yesus? Untuk membandingkannya, tak cukup hanya membahas isi ucapan dan nada menistakan atau merendahkan yang timbul dari pernyataan itu. Suasana yang ada di acara itu haruslah juga menjadi pertimbangan.

Saat Ahok mengucapkan hal itu, peristiwanya terjadi pada 27 September 2016. Acaranya adalah pemberian bantuan ikan kerapu pada masyarakat di Kepulauan Seribu, Jakarta. Karena acaranya adalah pemberian bantuan ikan kerapu (acara umum), tentu tak pada tempatnya jika tiba-tiba Ahok membahas surat Almaidah dalam kaitan dengan pilkada Jakarta pada 15 Februari 2017. Apalagi saat itu belum waktunya kampanye dan Ahok memakai baju dinas.

Massa yang hadir pada acara itu hampir semuanya umat Islam. Sangat keliru jika Ahok -di luar agenda- membahas soal surat Alquran (yang menjadi pedoman utama pemeluknya) dengan nada menyalahkan dan di hadapan umat Islam.

Pada saat itu, acaranya bersifat terbuka untuk umum. Tidak pada tempatnyalah di ruang terbuka membahas ayat Alquran yang malah dianggap salah di hadapan umat Islam. Padahal semua orang tahu, Ahok juga bukan seorang penganut agama Islam.

Bagaimana dengan suasana saat UAS menjelaskan tentang salib dan patung Yesus? Acara UAS itu merupakan kajian agama di Masjid Annur, Pekanbaru. Lantaran kajian agama, maka sifatnya adalah pengajian tertutup dan diadakan di dalam masjid. Oleh karena itu, hal yang dibahas melulu soal agama dan nilai-nilai serta kepentingan Islam. Lagi pula, saat menjelaskan tentang salib dan patung Yesus itu, UAS semata-mata menjawab pertanyaan hadirin. Jadi, bukan inisiatif UAS untuk membahas salib.

Tujuan pangajian itu sudah barang tentu untuk memperkuat akidah umat. Oleh sebab itu, jika ada pertanyaan yang bersinggungan dengan ajaran agama lain, penjelasannya sudah barang tentu yang bisa memberi kekuatan dan peningkatakan tingkat keimanan para peserta pengajian, bukan sebaliknya malah membuat umat dalam keraguan.

Anehnya lagi, ceramah UAS itu terjadi sekitar tiga tahun lalu. Mengapa baru sekarang beredar dan dipersoalkan? Ada apa pula ini?

Nah seperti itulah kondisi dan suasana yang membedakan kasus Ahok dan UAS. Di samping itu, saya punya pendapat, ceramah internal atau pengajian agama (apa saja), tausiyah dan pengajian di tempat ibadah, diskusi terbatas soal agama, atau pelajaran agama di kelas, sah-sah saja bila berisi pengetahuan tentang kebenaran nilai-nilai suatau agama, meski bisa jadi nilai-nila itu bertentangan dengan yang ada di agama lain.

Saya mengambil contoh saat pejaran agama Islam di sekolah. Andaikata ada murid yang bertanya: apa benar Pak Guru/Ustaz, bahwa Yesus itu Tuhan. Hampir pasti sang guru/ustaz itu akan menjawab: itu salah, Yesus bukanlah Tuhan tetapi manusia biasa yang dipilih Allah sebagai nabi, jangan kamu percaya orang yang bilang begitu, itu sesat, Nak!

Rasanya tak ada bedanya dengan yang terjadi tatkala pelajaran agama Kristen/Katholik di kelas. Kemudian ada murid yang bertanya: Pak Guru, apa benar Muhammad itu Nabi? Hampir pasti sang guru menjawab: bukan, Muhamad itu bukan Nabi, tidak ada Nabi yang namanya Muhammad, itu tidak benar dan sesat, jangan dipercaya hal itu, Nak!

Bagi saya, fakta dan penjelasan seperti itu tidak menjadi masalah. Kita semua tidak boleh marah jika tahu atau mendengar ada penjelasan seperti itu dari orang lain karena memang itu pelajaran agama di kelas dan dibahas tertutup. Pada hakikatnya memang demikianlah nilai-nilai kebenaran yang diyakini oleh agama masing-masing.

Faktanya, kita memang memiliki nilai-nilai atau ajaran yang berbeda-beda. Semua nilai itu harus disampaikan kepada umat atau pengikutnya. Dengan demikian, tidak akan mungkin sikap kita (semua pemeluk agama) selalu sama untuk nilai-nilai hakiki keagamaan. Dalam Islam sudah dijelaskan, bahwa bagiku agamaku, bagimu agamu (lakum dinukum wa liya din/surat Alkafirun: 6). Kesamaan kita mungkin, bahwa perbedaan itu tidak untuk dipertentangkan.

Jangan marah bila kita mendengar cerita dari orang, andai ada pendeta dalam suatu ceramah (atau kajian terbatas/pejaran agama di kelas) menyebut, bahwa umat Islam sebagai domba yang tersesat. Jangan pula ada yang teriak-teriak jika dalam kajian terbatas (di masjid, di sekolah saat pelajaran agama, dan lain-lain) seorang ulama/ustaz menilai penganut agama lain sebagai orang kafir. Itu memang ajaran dan keyakinan di agama masing-masing.

Justru menjadi kewajiban agamawan untuk menjelaskan dengan benar dan sejelas-jelasnya tentang nilai-nilai ajaran atau pemahaman sang agamawan terhadap suatu hal kepada para siswa atau pendengarnya. Tidak boleh ada yang disembunyikan. Jika sengaja ada yang disembunyikan dengan dalih toleransi misalnya, itu berarti terjadi pembelokan atas nilai hakiki keyakinan yang mereka anut. Syaratnya ya itu tadi, semuanya dibahas dalam forum terbatas.

Bagi saya, itu sah-sah saja karena memang diskusi/dialog/ceramah/pelajaran dilaksanakan dalam lingkup tertutup. Hal yang tidak boleh adalah jika kita membahas ajaran agama di acara terbuka yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas atau peristiwa agama sama sekali.

Ada yang berpendapat, di era digital sekarang ini, tidak bisa lagi membedakan acara tertutup atau terbuka. Ini karena era digital akan membuat semua yang tertutup menjadi bisa terbuka. Sekilas ini ada benarnya. Akan tetapi, sesungguhnya tidak bisa dalih itu jadi acuan atau dasar untuk mengabaikan acara atau pertemuan tertutup.

Suatu misal, apakah presiden dan para pejabat tinggi tidak bisa memiliki agenda tertutup? Tentu saja bisa. Bila agenda presiden yang tertutup dan masuk kategori rahasia lalu ada yang membocorkan, sudah barang tentu salah orang yang membocorkan. Dalam instansi-instansi lain pun pasti ada pertemuan yang bersifat tertutup dan tidak boleh menyebar.

Andai pula ada suami-istri berpacaran di rumah dan diabadikan dalam video telepon seluler (hp). Saya kira ini pun masuk kategori rahasia atau tertutup/terbatas. Sah-sah saja ini dilakukan. Jika kemudian suatu saat hp-nya hilang atau ada yang mencuri dan video tersebut menyebar luas, apakah tidak ada yang bisa disalahkan? Bagi saya, yang salah adalah yang menyebarluaskannya.

Jadi, bagaimana? Apakah kasus ceramah terbatas UAS masih akan diperkarakan? (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here