Tugu Pesut Mahakam yang terletak di depan Pendopo Kantor Gubernur Kaltim di Samarinda, menandai masa keemasan populasi Pesut Mahakam yang kini tinggal kenangan

Oleh : Muhammad Rizqi / Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Pesut merupakan sebutan masyarakat setempat untuk lumba-lumba air tawar yang merupakan hewan mamalia yang hidup di perairan air tawar sepanjang Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Di seluruh dunia tercatat, lumba-lumba air tawar juga terdapat di Sungai Irrawady, yang melintasi Kamboja dan Laos. Berbeda dengan lumba-lumba air laut, Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) hanya ada dan menempati aliran muara sungai sepanjang 980 kilometer. Pada tahun 1970-an, saat sungai Mahakam masih bersih dan bebas dari polusi dan lalu-lalang kapal, keberadaan Pesut masih dapat dilihat di Kota Samarinda.

Namun jumlah hewan ini kini sudah semakin berkurang dan memasuki jumlah kelangkaan. Untuk menemukan hewan eksotis asal Kaltim ini para wisatawan harus menyusuri anak sungai Mahakam dan memasuki desa-desa yang memiliki danau-danau besar. Salah satunya yang mudah dijumpai adalah di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Di Desa Pela, hewan ini terlihat masih mudah ditemukan biasanya pada pagi dan sore hari. Apalagi Desa Pela berada tidak jauh dari Danau Semayang yang menyediakan sumber makanan alami berupa ikan-ikan kecil makanan Pesut ini.
Kemunculan Pesut Mahakam biasa terlihat pada pagi dan sore hari saat mencari makan dan bermain dengan bergerombol bermain air dan muncul ke permukaan air sungai.

Jika bernasib baik, kemunculan gerombolan Pesut Mahakam dapat disaksikan pagi dan sore hari
Warga Desa Pela pun sangat menyayangi binatang ini, bahkan mereka sepakat untuk tidak menangkap Pesut dan melarang siapa saja yang ingin mengambil Pesut dari habitatnya. Karena, keberadaan Pesut dapat menjadi pertanda bagi nelayan akan banyaknya ikan yang ada di sekitarnya.

Alimin, Ketua Kelompok Sadar Wisata Bekayuh, Beimbai, Beadat (3 B) Desa Pela mengatakan, kampung Pela merupakan kampung yang terkenal dengan Pesutnya. Bahkan wisatawan asal mancanegara sering berkunjung hanya untuk melihat lumba-lumba air tawar ini.

Memang secara fisik terdapat perbedaan antara lumba-lumba laut dengan Pesut Mahakam. Diantaranya lumba-lumba memiliki moncong mulut yang panjang sedangkan Pesut memiliki mulut yang tumpul dan kepala yang membulat serta sirip punggung yang tidak lebar.

“Pesut ini merupakan hewan yang mampu membawa keberkahan bagi kami, karena dengan adanya hewan ini pertanda bahwa ada ikan yang ada berlimpah, serta ekosistem alam kami yang masih terjaga. Keberadaan Pesut juga memancing datangnya wisatawan yang datang karena Pesut ini. Ini memberikan rejeki bagi warga kami,” ungkap Alimin kepada Poskaltim.com, pada Jumat (21/06) lalu.

Menurut Yayasan RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia), keberadaan Pesut Mahakam saat ini berjumlah sekitar 80 ekor atau sudah berada di bawah 100 ekor. Sekitar 65 persen Pesut Mahakam mati karena aktivitas nelayan sekitar yang belum ramah terhadap mamalia air ini, seperti penggunaan renggek atau jaring pasang dengan lubang kecil. Pesut pada malam hari hanya melihat gerombolan ikan tanpa melihat jaring yang dipasang nelayan.

Desa Pela siap menyambut kedatangan wisatawan yang berkunjung ke desa yang kental dengan tradisi nelayan
Lewat berkah Pesut Mahakam ini, anak-anak muda Desa Pela memberanikan diri menjadikan desa mereka sebagai desa dengan potensi wisata pengamatan Pesut Mahakam. Kini, di desa nelayan ini telah disediakan pondok wisata (home stay) yang baru berjumlah lima rumah dengan rata-rata memiliki dua kamar yang dapat disewa per malam seharga Rp100.000 plus makan tiga kali sehari.

Dengan ditetapkannya Desa Pela sebagai desa wisata oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, maka promosi mulai digiatkan baik untuk wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Dengan jarak sekitar 120 kilometer dari Kota Samarinda, Desa Pela dapat ditempuh antara 2,5 hingga 3 jam menggunakan kendaraan roda empat. Atau jika memiliki waktu panjang, dapat menumpang kapal dengan rute pedalaman Mahakam selama 6-7 jam.

Menurut Alimin, sejak dua tahun lalu, sudah 20 orang turis asing yang datang ke desa mereka. Baik dari Eropa maupun Australia yang tertarik melihat kehidupan warga nelayan plus pengamatan Pesut Mahakam. Sedangkan turis lokal dan nusantara jumlahnya sudah ratusan orang.

“Dari sini warga bisa menambah penghasilan tidak saja dari mencari dan mengolah hasil ikan tangkapan, tetapi warga turut berjualan jajanan khas desa hingga menyediakan buah tangan berupa ikan asin, kerupuk ikan, souvenir berbentuk pesut hingga kerajinan sandal yang terbuat dari anyaman eceng gondok,” ucap Alimin.(RQZ/YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here