Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Bukit Stelling begitu orang menyebut perbukitan yang ada di Kelurahan Selili Kecamatam Samarinda Ilir yang posisinya berhadapan langsung dengan Kota Samarinda.

Barisan bukit ini sebagian masyarakatnya menyebut “Gunung” Stelling. Maklum saja, bagi masyarakat di Kalimantan yang pulaunya tidak memiliki satu gunung pun, tidak pernah melihat perwujudan gunung yang sebenarnya seperti di Pulau jawa atau pulau-pulau lainnya di Indonesia. Sehingga bukit yang sedikit besar pun masyarakat kerap menyebutnya dengan kata “gunung”.

Hingga kini , belum ada arti sebenarnya dari kata “stelling” ini. Kata stelling juga ditemukan di beberapa tempat di kabupaten lain di Kaltim, seperti halnya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Menurut orang tua, dahulu Gunung Stelling merupakan pos pemantauan dan pertahanan Belanda dalam menghadapi musuhnya Jepang. Arti kata ini mungkin dapat dibenarkan karena dahulu digunung Stelling ini banyak ditemukan alat-alat perang seperti meriam dan senapan mesin. Begitupun di Kabupaten PPU, sebuah tempat yang disebut Kelurahan Gunugn Stelling, terdapat meriam berukuran besar yang moncongnya mengarah ke Teluk Balikpapan tempat datangnya kapal-kapal musuh.

Kembali ke Gunung Stelling Samarinda, disinilah dapat dilihat wajah kota Samarinda yang mulai padat dengan penduduknya yang hampir berjumlah satu juta jiwa. Bagaimana dari sini dapat dilihat panorama Sungai Mahakam yang membelah kota, pemukiman padat penduduk dan beberapa gedung tinggi yang mulai tumbuh dimana-mana.

Pemandangan yang berbeda dari atas bukit inilah, jika sore ataupun pagi hari, dapat dirasakan oleh penggunjung yang ingin menyaksikan pemandangan matahari terbit dan terbenam dengan indah.

Praktisi pariwisata, Syarifuddin Pernyata berharap Pemkot Samarinda dapat memanfaatkan obyek wisata Gunung Stelling untuk menambah pemasukan pendapatan daerah dan memberikan imbas ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Untuk mencapai ke lokasi ini, pengunjung cukup berkendara hingga di bawah “gunung” dengan jarak tempuh 10 menit dari pusat kota. Pengunjung harus berjalan kaki menaiki bukit selama 30 menit. Trek yang cukup terjal dan terkadang licin karena embun pagi menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan lokal yang ingin mencapai puncak. Namun lelah dan dahaga akan terbayar ketika kita dapat bersantai sambil melihat lalu-lalang kapal-kapal yang berniaga di sepanjang kelokan sungai.

Penggiat seni dan pemerhati pariwisata, Syarifuddin Pernyata mengatakan, jika bukit yang dulunya menjadi pos pantau tentara Belanda ini dikelola dengan baik oleh Pemkot Samarinda, bukan tidak mungkin wisata Bukit Stelleng ini bisa menghasilkan pendapatan bagi Pemkot Samarinda.

“Gunung atau Bukit Steleng ini sangat potensial yah untuk pariwisata, bahkan jika ini dikelola dengan baik, pasti akan menghasilkan PAD (pendapatan asli daerah) bagi Pemkot Samarinda dan akan berimbas pada ekonomi warga sekitarnya,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, keindahan pemandangan seperti ini yang letaknya di tengah kota terbilang sangat langka, terlebih Samarinda merupakan kota yang dikelilingi sungai dan itu menjadikan pemandangan dari atas gunung menjadi lebih menakjubkan.

Sementara itu, Akbariah Lurah Selili mengatakan bahwa dalam tahun ini akan dilakukan pengerjaan jalan menuju puncak Stelleng. Namun pengerjaan ini diperkirakan baru akan dilakukan pada bulan-bulan diakhir 2019 mendatang.

“Itu nanti disitu (Gunung Stelleng) akan kita buat jalan semen naik ke atas bukit, jadi aksesnya lebih mudah, cuma masih menunggu lagi dari Pemkot kapan akan dikerjakannya, kemungkinan bulan akhir tahun 2019 nanti,” jelas Akbariah.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here