Oleh: Luthfi Subagio

Poskaltim.com – Banyak universitas di Malaysia kini didorong untuk punya sector unggulan dalam skala internasional pada pendidikan dan kesehatan. Tekad Malaysia terdekat, harus jadi nomor satu di Asia Tenggara!

Kali ini saya tulis dulu soal pendidikan. Dulu Malaysia ‘menyusu’ pada Indonesia, Mungkin kini kita harus belajar banyak dari Malaysia. Bahkan jangan-jangan kita sudah disalip mereka. Inilah oleh-oleh saya Campus Tour di Sunway University, yang terletak di Subang Jaya Selangor, hanya 30 menit dari Kuala Lumpur.

Sunway University ini sampai hari ini disebut universitas swasta (private) paling maju di Malaysia. Universitas dibawah Yayasan Jeffrey Cheah ini meraih lima bintang dari QS (Quacquarelli Symonds) internasional untuk pengajaran, prospek kerja dan fasilitas.

Universitas ini, juga masuk dalam 2% universitas terbaik di Asia (QS Asia University Rankings 2019). Selain itu Sunway juga bermitra dengan Harvard, Cambridge, Oxford, Lancaster dan Berkeley Univesity dan beberapa universitas terkenal yang lain.

Saya kaget ketika diajak masuk ke perpustakaan yang terletak di gedung utama. Kaget saya, karena untuk masuk ke ruangan itu sudah menggunakan teknologi pengenal wajah (face recognition). Maka jika wajah Anda tak ada disini, pintu keluar dan masuk perpustakaan tak akan terbuka.

Saya cuman mesem saja melihatnya. Niat banget sih, hanya untuk perpustakaan saja sampai gitunya. Masih di perpus itu, saya diajak melihat sebuah ruangan kaca untuk main game dan nonton TV. Buat apa ruangan ini ada disini? tanya saya, rupanya ruangan ini untuk para mahasiswa yang tidak sempat pulang atau balik kos. Dia bisa ‘take a rest’ untuk menyegarkan otaknya, kemudian kembali belajar. Tanpa harus bolak-balik.

Seperti banyak perpustakaan dimanapun, berisik dan ngobrol diharamkan, takut menganggu yang lain. Di sini boleh, hanya saja ada ruangan yang benar-benar ‘bersih’ suara, ada juga yang separuh bersih.

Untuk yang boleh ngobrol bahkan ada vending machine-nya untuk sekadar beli minuman. Dan sedikit chit-chat, tapi tetap saja dilarang terbahak-bahak!

Dan jika ada tugas presentasi baik kelompok atau sendiri, mereka bisa daftar memakai ruang kedap suara untuk berlatih menghadapi ujian. Yang menarik juga adalah ada zonasi khusus untuk jurnal dan buku-buku dari universitas mitra mereka. Di situ berisi jurnal-jurnal ilmiah terbaru, misalnya Harvard Journal, Cordon Blue punya tempat tersendiri, begitu juga yang lain.

Yang juga menarik, semua gedung-gedung area kampus itu tersambung oleh jembatan beratap yang aksesnya dijaga oleh satpam. Menurut saya ini, solusi yang cerdik untuk mengatasi move-nya pelajar. Sehingga mobil bisa lewat dengan aman di jalan sedangkan pejalan kaki juga nyaman lewat atas.

Untuk mendukung pendidikan di Malaysia, tahun ini anak Indonesia dari kelas 11 boleh pindah ke kelas 12 di Malaysia, karena baru dua bulan lalu izinnya dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan Malaysia.

Ini merupakan terobosan penting, karena pelajar tidak perlu kehilangan setahun untuk kelas matrikulasi universitas (foundation), karena begitu mereka lulus bisa langsung masuk universitas.

Mereka yang pindah ke kelas ini tentu tak akan dapat ijazah nasional hasil UN (Ujian Nasional), namun dia bisa dapat ijazah internasional dan bisa digunakan untuk masuk universitas di Indonesia sekalipun

Di kelas ini, bidang studinya sudah sangat ‘sharp’, mereka hanya akan mendalami, matematika, bahasa inggris, fisika, biologi dan kimia bagi yang mengambil jurusan science. Di Indonesia, kelas ini mirip dengan anak-anak yang menempuh A-level atau IB-level di sekolah internasional.

Lalu bagaimana soal biaya? Sama dengan sekolah SMA swasta di Jakarta dengan dengan grade A-B. Asal tahu saja, di Jakarta untuk masuk itu orang tua harus merogoh sakunya dalam-dalam, paling tidak Rp 150 juta. Di Malaysia, biaya Pendidikan, jauh lebih rendah. itu sudah termasuk SPP, uang gedung uang buku dll serta fasilitas belajar yang sudah benar-benar 4.0. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here