Oleh: Azhar AP / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Memiliki penduduk yang mayoritas beragama Islam, Provinsi Sulawesi Selatan berpotensi menjadi provinsi syariah di Indonesia. Selain itu, Sulsel juga sebagai hub daerah Kawasan Timur Indonesia (KTI). Dari berbagai potensi yang dimiliki, daerah ini diyakini memiliki prospek cerah untuk pengembangan ekonomi syariah. Apalagi, mayoritas penduduknya beragama Islam.

“Penduduk Sulsel yang sekitar 9 juta jiwa itu mayoritas adalah muslim, sehingga sangat potensial mengembangkan ekonomi syariah,” kata Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman pada acara Pekan Ekonomi Syariah 2019 di Makassar, Ahad (18/8).

Dengan disokong Ranperda, produk di Sulsel akan tersertifikasi halal. Bagi UKM mendapatkan keringanan berupa pembebasan biaya sertifikasi halal.
Selama ini sertifikasi halal menjadi momok bagi produsen lokal karena sangat mahal. Sedikitnya membutuhkan dana Rp2 juta.

Anggota Tim Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Pembinaan dan Pengawasan Produk Halal Ruslan Renggong mengatakan, Ranperda itu nantinya akan mengawal instruksi pemerintah wajib sertifikasi halal pada Oktober 2019.
Sulsel merupakan daerah yang memiliki potensi dan keunggulan untuk mengembangkan ekonomi halal. Kendati diakui masih ada beberapa kendala dalam pengembangan produk halal.

Di antaranya adalah belum tercapainya kesadaran kolektif untuk menjadikan produk halal. Baik dari sisi produsen maupun konsumen, dalam memenuhi tuntutan kehalalan dalam perspektif agama dan hambatan biaya bagi sertifikasi untuk UMKM.

Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia Yono Haryono mengatakan, pengembangan industri atau produk halal di Sulsel sangat besar. Sulsel dapat mengembangkan wisata halal dengan dua ikon wisata yang sudah terkenal hingga mancanegara yakni Pantai Bira di Bulukumba dan Tana Toraja dengan wisata alam dan budayanya.

Belum lagi potensi lainnya, misalnya produk pangan, kosmetik halal, keuangan syariah, media dan rekreasi serta makanan halal. Terlebih lagi, Makassar terkenal sebagai surga wisata kuliner.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Anggiat Sinaga membenarkan hal itu. Dia mengungkapkan tingkat okupansi hunian hotel di Makassar yang turun hingga 20 persen belakangan ini, dapat dibangkitkan kembali. Caranya, menghadirkan hotel syariah untuk mendukung wisata halal.

Bercermin dengan negara tetangga, lanjut dia, Thailand dan Filipina yang penduduknya minoritas muslim ternyata dapat meningkatkan ekonominya 20 – 30 persen dengan menghadirkan wisata halal di negaranya.

Berkaitan dengan hal itu, Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi KpW Bank Indonesia Sulawesi Selatan Endang Kurnia Saputra pada penutupan Pekan Ekonomi Syariah 2019 mengatakan, ke depan semua potensi yang dibungkus dalam ekonomi syariah itu akan menjadi primadona di Indonesia.

“Kami mendorong perkembangan ekonomi syariah di Sulsel tak hanya itu, kami juga mendorong ekonomi syariah di seluruh Indonesia agar menjadi primadona di nusantara ini,” ujar Endang.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here