Kecamatan-kecamatan yang berbatasan langsung dengan garis pantai, di Kabupaten Penajam Paser Utara, dapat dipastikan warganya kerap melihat penampakan buaya muara dan buaya air asin.(foto:ist)

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Tak hanya diduga sebagai sarang penyakit malaria, ternyata lokasi calon ibu kota negara di Kecamatan Sepaku juga merupakan habitat buaya.

Kabupaten Penajam Paser Uatara (PPU) yang berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi, daerah air payau yang merupakan campuran antara air tawar dan air asin, memang banyak dihuni oleh berbagai jenis buaya. Seperti buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya air laut (Crocodylus porosus).

Banyak kasus kematian akibat diserang buaya, khususnya pada warga yang berprofesi sebagai nelayan. Bahkan, perangkap ikan milik warga yang terpasang di pantai yang disebut warga dengan istilah belat, juga kerap dimasuki buaya yang memangsa habis ikan-ikan di dalam belat nelayan.

“Walau menjadi habitat buaya, tetapi kami warga Kecamatan Sepaku tidak terlalu takut. Karena jika mengetahui kebiasaan buaya dalam mencari makan, maka disitulah kita waspada untuk tidak turun ke laut. Dengan mengetahui kebiasaan hidup buaya, maka kami dapat hidup berdampingan dengan buaya secara aman,” ucap Lurah Maridan, Hendro Susilo, yang dihubungi wia aplikasi pesan whats app, Senin sore (14/10).

Seorang pegawai protokol Pemkab PPU bernama Slamet, memperlihatkan papan peringatan tentang keberadaan buaya di sebuah dermaga di Kecamatan Sepaku.(foto:ist)
Hendro tidak menampik jika Kabupaten PPU merupakan habitat hidup buaya, terutama wilayah-wilayah yang berbatasan dengan garis pantai dan laut yang menjorok ke hulu, seperti yang terdapat di Kelurahan Maridan, tempatnya bertugas.
“Tempat-tempat yang berbatasan dengan air laut kerap ada buayanya. Namun, tidak semua kelurahan dan kecamatan berbatasan dengan laut. Contohnya lokasi ibu kota negara seluas 180.000 hektar keberadaannya jauh dari laut, semuanya hutan” ujarnya.

Sementara itu, seorang warga Kecamatan Penajam yang tinggal di Teluk Balikpapan bernama Abdulrahman (29) mengatakan, jika usai hujan, apalagi jika hujan di malan hari, maka buaya kadang hanyut terbawa air sungai hingga ke pantai di sekitar Teluk Balikpapan.

Apalagi, ujarnya pesisir pantai yang berseberangan dengan Kota Balikpapan ini masih banyak ditumbuhi oleh pohon bakau dan pasir putih yang digemari buaya muara untuk berjemur di siang hingga sore hari.

“Saya kalau hendak turun ke laut mengambil ikan di jaring belat, saya harus hati-hati. Tidak langsung turun ke air, tetapi mengawasi dulu apakah ada buaya yang turut terperangkap. Karena pernah buaya terperangkap dan ikannya habis dimakan buaya,” ujarnya.

Namun, ujar Rahman, hidup berdampingan dengan habitat buaya tidaklah membuat dirinya dan keluarganya ingin pindah rumah. Menurutnya, kehati-hatian dan tidak mengganggu habitat buaya merupakan cara hidup berdampingan tanpa ketakutan yang luar biasa.

“Kebiasaan hidup buaya dan manusia itu berbeda jam aktivitasnya. Jika manusia beraktivitas pada siang hari, maka buaya lebih agresif di mala hari. Jadi jangan turun ke laut pada saat buaya lagi mencari makan di malam hari,” sarannya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here