Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Sepaku– Ramai di pemberitaan beberapa waktu lalu yang menyebutkan bahwa Kecamatan Sepaku, calon ibu kota negara kelak adalah endmik nyamuk malaria.

Ketika ditanyakan kepada Lurah Kecamatan Maridan Hendro Susilo yang wilayahnya berbatasan dengan hutan produksi dan rawa-rawa, dirinya membantah akan hal itu. Menurutnya, asal penularan penyakit malaria berasal dari orang yang tergigit nyamuk malaria ketika mereka bekerja di hutan, baik sebagai juru tanam atau juru panen pohon-pohon yang diproduksi oleh beberapa perusahaan perkayuan di Kecamatan Sepaku.

“Kan setiap perusahaan ada klinik kesehatannya. Setiap orang yang berobat di klinik atau Puskesmas karena malaria, maka akan tercatat sebagai warga Kecamatan Sepaku. Padahal para pekerja tersebut rata-rata bukan orang Sepaku, kebanyakan orang luar daerah. Jadi, tidak benar juga kalau calon ibu kota negara endemik malaria,” ujar Hendro Susilo, pada Ahad (15/9).

Setiap hutan di Kalimantan berpotensi membawa penyakit malaria. Namun penyakit malaria jarang menyerang masyaakat di pemukiman penduduk.
Dirinya juga menyayangkan data yang dibuka ke media oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim tidak melakukan konfirmasi ke pihak Kecamatan Sepaku, atau minimal ke Kelurahan Maridan, tempat warga sering terserang malaria. Karena yang terkena malaria bukan warga setempat Kecamatan Sepaku, yang memiliki 12 kelurahan.

Dijelaskannya, jika penyakit malaria kerap menyerang pekerja di sektor kehutanan. Tidak saja di hutan di sepaku, tetapi hutan-hutan di seluruh Kalimantan juga berpotensi terhadap penyakit malaria ini. Karena para pekerja tanam dan pekerja pemanen pohon, biasanya mereka membangun tempat bermukim sementara selama bekerja di lokasi yang memang berada jauh dari masyarakat. Kadang, lanjut Hendro, para pekerja tidak menggunakan kelambu selama mereka tidur siang dan malam hari, sehingga nyamuk pembawa malaria dengan mudah menyerang mereka.

“Kalau warga kampung tidak ada lagi yang terkena penyakit malaria. Kalau penyakit demam berdarah karena nyamuk aides aegipty, pernah saja terjadi tetapi tidak banyak,” ucapnya.

Selain menerapkan pola hidup sehat secara mandiri, pihak kelurahan dan kecamatan juga menerapkan program hidup bersih sehat (PHBS) bahkan pembagian kelambu anti nyamuk untuk warga. “Kalau penyakit demam berdarah menyerang warga, upaya terakhir yah pengasapan atau fogging,” ujarnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here