Oleh: Suandri Ansah / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Minimnya lembaga keuangan yang memberikan perhatian kepada pelestarian budaya dan konsep arsitektur nusantara, dianggap sebagai salah satu kendala dalam pengembangan pelestarian budaya Indonesia.

Dalam rangka pengembangan itu, Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kemenpar memfasilitasi sosialisasi program kredit kemitraan Homestay bersama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) di Mandalika. Program ini menyediakan pinjaman berbunga rendah bagi pengembangan atau perbaikan Homestay di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas.

Program kemitraan serupa sudah juga dimanfaatkan di Desa Samiran, Boyolali dan Desa Nglanggeran, Gunung Kidul. Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata, Anneke Prasyanti berharap, kerja sama ini dapat mendorong penyalur dana lainnya untuk menggolongkan material lokal dalam konsiderasi dukungan pembiayaan.

“Saya harap ini menjadi terobosan. Selama ini dukungan pembiayaan rumah, khususnya dari bank, belum menyetujui penggunaan material yang tidak diproduksi pabrik, seperti kayu, alang-alang, dan bambu,” ujar Anneke

Anneke menjelaskan bahwa keragaman rumah Indonesia sesuai dengan konteks budaya masing-masing. “Tidak ada rumah ukuran standar di Indonesia, varian rumah dan fungsi yang mewadahinya sangat beragam. Arsitektur sesungguhnya adalah ruang yang mewadahi fungsi dan kebutuhan manusia,” tutur Anneke.

Terkait program kredit kemitraan untuk homestay, dia berharap ke depan pinjaman dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan homestay yang bernuanasa lokal. Konsep homestay yang menyajikan keunggulan ruang budaya masing-masing.

“Biaya juga harus digunakan secara bijaksana, lebih baik terasa nuansa lokal sehingga jadi daya tarik bagi wisatawan dan sekaligus membantu pelestarian ‘Arsitektur Nusantara’,” ujar Anneke.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here