Kurs rupiah tercatat menguat 30 poin atau 0,21 persen dibandingkan perdagangan Senin (4/11) lalu, yakni Rp14.014 per dolar AS.

Oleh: Farida Noris / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.031 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Senin, yakni Rp14.002 per dolar AS.

Sementara itu, kurs rupiah tercatat menguat 30 poin atau 0,21 persen dibandingkan perdagangan Senin (4/11) lalu, yakni Rp14.014 per dolar AS. Dalam pergerakannya, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.984 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Selasa (5/11) sore.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Tercatat, ringgit Malaysia dan China sama-sama menguat sebesar 0,39 persen, dolar Singapura dan won Korea juga menguat sebesar 0,15 persen.

Selanjutnya, rupee India menguat 0,13 persen, peso Filipina menguat 0,22 persen, lira Turki menguat 0,09 persen, dan baht Thailand menguat 0,04 persen. Sementara, hanya yen Jepang yang melemah sebesar 0,29 persen terhadap dolar AS.

Di negara maju, mayoritas nilai tukar menguat terhadap dolar AS. Tercatat, dolar Canada dan dolar Australia menguat dengan nilai masing-masing 0,14 persen dan 0,48 persen.

Selain itu, euro juga menguat 0,07 persen, sementara pelemahan hanya dialami poundsterling Inggris yang melemah tipis sebesar 0,01 persen.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah disebabkan oleh kemajuan kesepakatan dagang antara AS dan China.

“Dalam beberapa hari terakhir, Beijing (China) dan Washington (AS) telah memberikan tanda-tanda kemajuan yang menggembirakan dalam pembicaraan perdagangan,” kata Ibrahim seperti dilansir dari CNN, Selasa (5/11).

Namun, di saat yang sama, pihak China mendorong Presiden AS Donald Trump untuk menghapus banyak tarif yang dikenakan pada September sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan “fase satu”. Kesepakatan ini diharapkan akan ditandatangani akhir bulan.

Kedua negara pun telah menaikkan tarif barang satu sama lain dalam perang dagang yang telah berlangsung selama 16 bulan.

Di sisi domestik, Ibrahim mengatakan pelaku pasar masih merespons positif rilis data ekonomi kuartal III 2019. Padahal, data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2019 hanya mencapai 5,02 persen.

“Pelaku pasar mengapresiasi fakta bahwa perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh di atas 5 persen,” ungkap Ibrahim.

Lebih lanjut, Ibrahim berpendapat dalam transaksi besok rupiah masih akan menguat di kisaran Rp13.950 hingga Rp14.010. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here