Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar.

Oleh: Ahmad ZR / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar berkomentar tentang disertasi doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang membolehkan hubungan seksual atas dasar suka sama suka tanpa nikah.

Menurut Musni, disertasi tersebut sangat berbahaya dan merupakan pendangkalan aqidah. Musni meminta para mahasiswa strata satu, dua dan tiga serta praktisi maupun akademisi untuk berhati-hati dalam mengeluarkan gagasan, meskipun dianggap sebagai wacana. Terlebih, pandangan tersebut bertabrakan dengan agama dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Mahasiswa program doktor UIN Sunan Kalijaga Jogja, Abdul Aziz, mengajukan konsep Milk Al Yamin yang digagas Muhammad Syahrur dalam ujian terbuka disertasi berjudul Konsep Milk Al Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital di UIN Sunan Kalijaga, Rabu (28/8).

Aziz mengemukakan pendapat yang menyatakan seks di luar nikah dalam batasan tertentu tak melanggar syariat.

“Disertasi ini menurut saya sesat dan menyesatkan serta membahayakan,” ujar Musni dalam akun resminya, Selasa (3/9).

Konsel Milk Al Yamin diklaim dapat digunakan sebagai pemantik munculnya hukum Islam baru yang melindungi hak asasi manusia dalam hubungan seks di luar nikah atau nonmarital secara konsensual. Aziz mengatakan ulama seperti Imam asy Syafii dan Imam at Tabari memahami Milk Al Yamin sebagai hubungan seksual nonmarital dengan budak perempuan melalui akad milik.

“Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih berhati-hati di dalam memilih fikiran-fikiran yang sesuai dengan budaya dan watak bangsa kita, terutama Pancasila kita dan yang bersumber dari ajaran masing-masing. Bagi Islam, rujukan terbaik adalah Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW,” ujar Musni.

Kemudian Muhammad Syahrur yang lebih progresif menemukan 15 ayat Alquran tentang Milk Al Yamin yang masih eksis hingga kini. Dia melakukan penelitian dengan pendekatan hermeneutika hukum dari aspek filologi dengan prinsip antisinonimitas.

Hasilnya, Milk Al Yamin, prinsip kepemilikan budak di masa awal Islam, tidak lagi berarti keabsahan hubungan seksual dengan budak. Dalam konteks modern, hal itu telah bergeser menjadi keabsahan memiliki partner seksual di luar nikah yang tidak bertujuan untuk membangun keluarga atau memiliki keturunan.

Konsep tersebut saat ini biasa disebut menikah kontrak dan samen leven atau hidup bersama dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan. Namun, Aziz menjelaskan, dalam konsep Milk Al Yamin, Muhammad Syahrur tidak semata-mata membenarkan seks bebas.

“Ada berbagai batasan atau larangan dalam hubungan seks nonmarital, yaitu dengan yang memiliki hubungan darah, pesta seks, mempertontonkan kegiatan seks di depan umum, dan homoseksual,” kata Aziz. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here